Tampilkan postingan dengan label Salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salaf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2018

Kenapa Petunjuk Bagi Orang yang Bertaqwa, Bukan Orang Islam?

Di dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat ke-2, Allah Jalla wa 'ala berfirman;
ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتّقين
"Kitab Al Quran itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi ORANG YANG BERTAQWA"
Mengapa Allah Ta'ala tidak menggunakan redaksi للمسلمين (orang-orang Islam)?
Karena orang-orang Muslim itu ada beberapa tingkatan;
1. Di antara mereka ada yang melakukan dosa-dosa besar, sehingga mereka tidak mendapatkan hidayah secara sempurna.
Cth; penikmat (makan) hasil judi bola, Zina, masih percaya ramalan, dll. Wajar bila kemudian mereka beriman kepada Al Quran tidak seutuhnya alias sebagian.
....أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض، فما جزآء من يفعل ذلك إلّا خزي في الحياة الدّنيا، ويوم القيمة يردّون إلى أشدّ العذاب، وما اللّه بغافل عمّا تعملون (البقره:٨٥)
".....Apakah kalian beriman kepada sebagian Isi Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripada kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia (di sisi Allah), dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat besar. Allah tidak pernah lengah dari apa yang kalian perbuat." (Al Baqoroh:85)
2. Di antara mereka ada yang melakukan dosa-dosa kecil secara terus menerus (meremehkan dosa selain syirik), sehingga mereka juga tidak mendapatkan hidayah secara sempurna.
عن عائشة رضي اللّه عنها، قلت: قال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم: يا عائشة إيّاك ومحقّرات الأعمال (و فى رواية:الذّنوب) فإنّ لها من اللّه طالبا.
"Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, dia berkata,"Rasulullah Shollallahu 'Alayhi Wasallam berkata,"Wahai 'Aisyah hindarilah olehmu amal-amal remeh (dalam satu lafazh disebutkan dosa-dosa). Karena akan ada yang menuntut dari Allah terhadap amal-amal itu."
3. Orang yang bertaqwa
Merekalah orang yang memperoleh hidayah dari Al Quran. Mereka juga jadikan Al Quran sebagai petunjuk jalan hidupnya, sehingga mereka melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya, mengambil hukum dari-Nya dan menolak dengan tegas adanya penyerupaan atas dzat-Nya.
Akhukum Fillah...
Baarakallahu Fiik...

Nasehatilah Siapa Saja Untuk Taqwa

Di dalam kitab Al Fawaid, Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa Nabi Sulaiman 'Alayhissalam berkata, "Saya telah mempelajar apa yang telah dipelajari oleh manusia dan apa yang belum mereka pelajari. Dan dari semua itu, tidak ada pelajaran yang lebih agung daripada pelajaran tentang ketaqwaan kepada Allah Jalla Jalaaluh. Maka, apabila engkau ingin menasehati orang yang engkau cintai; anakmu, sahabatmu, atau tetanggamu, maka nasrhatilah agar mereka bertaqwa kepada Allah Jalla Jalaaluh.
Rasulullah Shollallahu 'Alayhi Wassallam berkata kepada Mu'adz;
يا معاذ اتّق اللّه حيثما كنت وأتبع السّيّئة الحسنة تمحما وخلق النّاس بخلق حسن (رواه الترمذي، احمد)
"Wahai Mu'adz, bertaqwalah kepada Allah di manapun kau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan (dosa) itu, dan pergaulilah manusia dengan menggunakan Akhlaq yang baik." (HR. Tirmidzi, Ahmad, Darimi).
Akhukum Fillah...
Barakallah Fiikum...

Hidup Bersama Al Quran


العيش مع القرآن
فإمّا يأتينّكم مّنّي هداى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولاهم يحزنون (البقرة:٣٨)
"Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati." (Al Baqoroh:2)
Sahabat, bila kehidupan kita tak kunjung tenang, selalu merasa sempit, cobalah merenung sejenak, sejauh apa hubungan kita dengan Al Quran. Itulah yang harus kita renungkan, jangan sampai kita mengalami berbagai macam kesempitan di dunia, di akhirat pun kemudian dibangkitkan dalam keadaan buta.
ومن أعرض عن ذكري فإنّ له معيشة ضنكا وّنحشره بوم القيمة أعمة (طه:١٢٤)
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku (perintah Al Quran), maka sungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
Pada saat itu kebanyakan kita bertanya "Yaa Rabb, kenapa Kau kumpulkan kami dalam keadaan buta, padahal dulu kami seorang yang dapat melihat?!"
Pertanyaan yang lambat dan sia-sia, sebab saat itu Allah Jalla Jalaaluh telah melupakan kita, sebagaimana kita telah melupakan atau cuek terhadap Peringatan-Nya yakni Al Quran.
قال كذلك أتتك أيتنا فنسيتها، وكذلك اليوم تنسى (طه:١٢٦)
"Allah berfirman;"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, namun kamu melupakannya, dan begitupula ada hari ini kamu dilupakan." (Thaha:126).
Mari sahabat hiasi kehidupan kita dengan terus membaca Al Quran, luangkanlah waktu... Agar kita tidak mengalami kesempitan hidup di dunia, apatah lagi di akhirat.
Akhukum Fillaah...
Barakallahu Fiikum

Hilangnya Penjagaan Allah Jalla Jalaaluh Terhadap Hamba-Nya

Barangsiapa yang tidak menjaga dan menunaikan hak-hak Allah Jalla wa 'alaa, maka Allah tidak akan berkenan memelihara dirinya.

Dan barangsiapa yang menyia-nyiakan Allah, maka ia pasti akan ditimpa kemalangan dan kesengsaraan hidup di dunia, serta jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sementara neraka jahannam akan menjadi tempat kembalinya di akhirat kelak. Begitilah ketentuan Allah Jalla Jalaaluh yang berlaku selama langit dan bumi masih kokoh berdiri.

ومن أعرض عن ذكرى فإنّ له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيمة أعمى (طه: ١٢٤)

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka niscaya ia akan memperoleh kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan mereka di hari kiamat dalam keadaan buta." (Thaha:124).

Cukuplah kisah Qarun menjadi pelajaran bagi kita untuk senantiasa taat pada peringatan dan ketentuan Allah Subhanahu wata'ala.

Akhukum Fillah...
Barakallahu Fiikum...

Senin, 16 Januari 2017

Bersama Meraih Sukses Dunia dan Akhirat

Semua kita tentunya memiliki berbagai macam visi misi hidup di dunia ini, maka dalam Islam tidak ada visi dan misi hidup selain meraih kebaikan di dunia maupun akhirat, istilah kerennya adalah “Dunia Bahagia Akhirat Surga”. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al Baqoroh ayat 201;
وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"
Siapa yang tidak ingin bahagia di dunia? Tentu semuanya mengatakan “Saya ingin bahagia, karena saya berhak bahagia”. Namun bahagia bukan sembarang kebahagiaan karena kebahagian dalam Iman Islam adalah manakala kita mampu membawa diri kita untuk taat kepada pemiliknya, Allah Jalla Jalaaluh.
Ketika kita selama hidup dunia senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah Jalla Jalaluh, maka percayalah kebahagian di akhirat itu pun akan kita dapatnya, karena sudah janji Allah Jalla Jalaaluh akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan pada hamba-Nya yang senantiasa menjaga ketaatan dalam beribadah kepadanya, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al Quran surat Ar Ra’du ayat 28;

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

                Berikut adalah tips untuk sama-sama kita melatih diri untuk menjadi pribadi yang bisa meraih kesuksesan Dunia Bahagia Akhirat Surga;

  1. Tenang, karena keyakinan kita kepada Allah Jalla Jalaaluh, jangan pernah berputus asa, karena bila sudah sejauh ini Allah Jalla Jalaaluh membawa kita, maka percaya dan yakinlah Allah Jalla Jalaaluh tidak akan pernah menelantarkan kita.
  2. Terencana, kita harus senantiasa terencana dalam melakukan segala sesuatu, tidak sebab dadakan dan terburu-buru, karena kalau sudah tidak terencana hal tersebut bisa merusak semuanya.
  3. Terampil, terampillah dalam bekerja tidak asal kerja, ciri orang terampil dalam bekerja adalah senantiasa berfikir terlebih dahulu sebalum mengerjakan sesuatu. Kalau kerja asal kerja, maka monyet pun bisa kerja.
  4. Tertib, dalam hidup kita harus senantiasa menjaga Haritsun ‘Alaa Waqtihi, tidak akan pernah bisa kita menyusun agenda dengan terencan dan dapat terampil bila kita tidak tertib dalam hal waktu, maka agar amalan yawmiyah kita tertib buatlah semacam Schedule Time jadwal kerja harian.
  5. Tekun, untuk meraih Dunia Bahagia Akhirat Surga tentunya kita harus tekun dalam beribadah, jangan pernah melalaikan perkara ibadah bila kita ingin memiliki kebahagiaan yang hakiki. Mari tekun dalam menjaga sholat kita, dhuha kita, tilawah kita, bahkan tekun kita menjalankan puasa sunnah senin kami dan ayyamul bidh (13,14,15 setiap bulan dalam kalender hijriyah).
  6. Istiqomah, apa kata Rasulullah Shollallahu ‘alayhi wassallama ketika ditanya apa yang harus dilakukan setelah beriman kepada Allah? Kemudian Rasulullah Shollallahu ‘Alayhi Wassallama menjawab “Fastaqimu” atau istiqomah. Hamba yang beriman tentunya ikhlash dalam melakukan amal sholeh, kemudian mereka akan berjuang untuk istiqomah menjalankan amal sholeh tersebut.
  7. Tegar/Sabar, sebagai hamba Allah yang beriman tentunya kita harus kuat dan tabah dari berbagai macam kejadian dalam hidup kita karena segala sesuatunya adalah ketentuan (milik) Allah Jalla Jalaaluh , sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al baqoroh ayat 156;
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun"

  1. Tawadhu’/Rendah hati, sebagai hamba Allah yang beriman tentunya kita menyadari bahwa di dunia ini tidak adalah lebih tinggi, lebih kuasa kecuali Allah Jalla Jalaaluh, sehingga dengan demikian sifat sombong tidak akan muncul di dalam hati kita, karena kesombongan adalah sarana paling efektif untuk menjatuhkan martabat kita.
KEJARLAH AKHIRAT, MAKA DUNIA AKAN MENGEJARMU, PENUHI KEBUTUHAN BEKAL AKHIRAT KITA, MAKA DUNIA AKAN IKUT MEMENUHI KEBUTUHAN DUNIA KITA.

Semoga Bermanfaat J

Alfaqir Ilallah Bang Malik

Jumat, 03 April 2015

Isu Wahabi Senjata Syiah Memecah Belah Aswaja


Bismillah

Ada beberapa sahabat yang bertanya kepada saya mengenai Wahabi. Maka biasanya saya lebih memilih untuk bicara langsung via telpon atau berjumpa langsung dengan yang bertanya. Agar semakin jelas dan tidak menimbulkan perdebatan-perdebatan baru, dan di dunia maya sering sekali hal tersebut terjadi.

Dalam Islam kita memiliki 4 imam mazhab, Hambali, Hanafi, Maliki (Kitabnya Muwatho') dan Syafi'i. yang terakhir adalah mazhab yang masyhur diikuti oleh sebagian umat Islam asia tenggara, Malaysia, Brunei, SIngapore, Indonesia, dll. Dan tahukah kita, satupun dari mereka tidak ada yang konfrontasi sama sekali apalagi bertikai, justru mereka saling melengkapi, terutama Imam Syafi'i yang belajar pada ketiganya.

Lalu Bang Malik, ketika kami sudah mengikuti imam syafi'i, apakah harus menafikan  3 imam mazhab yang lain? itu kembali kepada KEDEWASAAN IMAN ANDA. Berikut adalah pesan terakhir para imam mazhab rahimahullah;

Imam Syafi'i Rahimahullah berkata:
"Dalam setiap isu, apabila seseorang ahli hadis itu menjumpai sebuah riwayat yang sahih daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan riwayat itu pula bertentangan dengan ajaran aku maka aku menarik kembali ajaran aku yang asal tadi sama ada pada ketika aku masih hidup atau apabila aku sudah meninggal dunia nanti." (dalam I'lam Al Muwaqi' Jilid 2. Hal 363)

Imam Hambali Rahimahullah berkata:
"Tidak ada perkataan sesiapapun melainkan boleh diterima perkataannya atau ditolak kecuali perkataan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Sementara apa yang dikatakan oleh Maliki dan Abu Hanifah adalah apa yang juga aku katakan apabila rujukan kami sama-sama dari Nabi shallallahu 'alayhi wasallam." (Jami' Al bayan al ilm, jilid 2 . hal. 149)

Imam Hanafi (Abu Hanifah) Rahimahullah berkata:
"Apabila sesuatu hadis itu sahih manakala ianya bertentangan pula dengan mazhab, perkara yang mesti dilakukan ialah beramal berdasarkan hadis tersebut. Demikian itu adalah Mazhab Abu Hanifah dan para pengikut mazhab tidaklah terkeluar dari kedudukannya sebagai pengikut Hanafi dengan mengamalkan hadis tersebut.

Ada juga suatu riwayat yang sahih daripada al-Imam Abu Hanifah menyebutkan bahawa beliau telah berkata “Apabila Hadis itu sahih, itulah mazhab aku.” Riwayat ini diceritakan daripada Ibn ‘Abd al-Barr daripada al-Imam Abu Hanifah dan juga daripada imam-imam lainnya." (The Prophet's Prayer Describe, ms viii)

Imam Maliki Rahimahullah berkata:
"Aku hanya manusia biasa yang mana pendapat aku mungkin benar dan mungkin salah. Maka telitilah pendapat yang aku kemukakan. Semua pendapat yang selaras dengan al-Qur’an dan al-Sunnah maka ambillah ia manakala yang tidak selaras dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, tinggalkanlah." (Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr di dalam Jami’ Bayan al-Ilm, Jilid 2 ms. 32).

Coba simak dan fahami masing-masing pesan terakhir Imam Mazhab Rahimahullah tersebut. Namun, sayang pertikaian justru datang dari kalangan pengikut mereka, seakan derajat keempat imam mazhab mendekati derajat kenabian, sehingga kudu mutlak pada satu mazhab.

Kembali ke Laptop, "Maulid Nabi" saya pribadi sendiri tidak menganggap ini sebuah perkara sesat saya melihat perayaan ini hanya dari sisi azaz manfaat untuk umat, yaitu kesadaran untuk kembali kepada khittah kita hidup di dunia ini, yaitu menjadi seorang Khalifah yang senantiasa mengikuti cara hidup Rasulullah SAW, untuk terus mengenangnya, dan momen Maulid adalah saat yang tepat, agar manusia tidak disibukkan oleh perkara dunia.

Itu sebab kenapa Sholahuddin AL Ayyubi sampai membuat sayembara pembuatan syair-syair cinta untuk Rasulullah, karena saat itu umat Islam sudah jauh dari nilai ajaran Rasul. Sudah disibukkan oleh peraka dunia. Umat islam seakan terlihat tidak siap ketika sudah menjadi penguasa.

Ketika dua pertiga dunia kita tundukkan, tiba-tiba satu persatu lepas dari tangan kita, karena virus cinta dunia (Al Wahn) sudah menjalar di hati umat Islam, sehingga Spanyol dan wilayahnya lepas dari tangan kita, kekhalifahan utsmani (yang terakhir) runtuh juga seketika. masing-masing akhirnya sibuk menyelamatkan dirinya.

Salahkah peringatan Maulid Nabi SAW? Tidak SALAH... Dia menjadi Salah manakala di dalamnya terdapat kemubadziran, hanya seremonial belaka tanpa ruh yang nyata menghiasi hati untuk terus berjuang nyata membela agama Allah. Adakah sahabat BM yang ingin menyebut SHolahuddin AL Ayyubi sebagai AHLUL BID'AH?

Berdewasalah dalam beragama, teruslah belajar dan membaca, maka akan lahirnya kebijaksanaan di sana, dalam bersikap dan berpendapat, Nahnu Du'at wa laysal hakim, kita ini penyeru agama Allah, bukan Hakim.

Bagaimana dengan Wahabi Bang Malik?

Wahabi? Hewan Jenis apa itu?
JT? Hewan Jenis apa itu?
Tarbiyah? Hewan Jenis apa itu?
Salafi? Jenis Hewan Apa itu?

"Ahmad, di mana pun Ahmad menemukan kenyamanan dalam berjama'ah (kelompok), maka jangan pernah di hatimu muncul sentimen berlebihan terhadap jama'ah lain. Apapun Mazhab yang Ahmad Pegang, maka jangan cibir mazhab yang lain dan pengikutnya, Ahmad adalah umat Muhammad, bukan umatnya Hambali, bukan umatnya Hanafi, bukan umatnya Maliki dan Syafi'i, belajar terus Nak, Abah sudah tua."

Itu adalah nasehat super abahku, seorang da'i sejati dalam hidupku, penerang hatiku, perpustakaan dan kitab berjalanku. Semoga Allah merahmatimu abahku sayang.

Kenapa di atas disebut "Jenis Hewan Apa Itu". Maksud abahku yang saat itu kutanya langsung adalah, nama-nama itu muncul justru diciptakan untuk mengkotak-kotakkan umat Islam di dunia. Sebagaimana penjajah kafir di Indonesia yang mengkotakkan muslim dengan gelar Haji (laki) dan Hajjah (perempuan), buat apa? Sebagai tanda agar mudah mengontrol kita.

Muhammad bin Abdul Wahab yang belakangan disebut pencetus Wahabi adalah seorang ulama yang bermazhab Hambali, lalu mutlakkah dia bermazhab Hambali? tidak Sahabatku, dalam perkara ilmu Waris Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan rumusnya Imam Syafi'i.
Lalu ada fitnah bahwa Muhammad mengharamkan Sholawat ke atas Nabi SAW dan mengharamkan Ziarah Kubur, kemudian beliau dengan mazhab hambalinya disebut tidak mau mengakui kebenaran Ahlul Bayt. Maka semua itu dijawab santai oleh Muhammad bin Abdul Wahab:

“Maka semua tuduhan yang diada-adakan dalam hal ini sungguh kami tidak mengerti apa yang harus kami katakan sebagai jawaban, kecuali yang dapat kami katakan hanya "Subhanallah, Maha suci Engkau ya Allah" ini adalah kebohongan yang besar. Oleh karena itu, maka barangsiapa menuduh kami dengan hal-hal yang tersebut di atas tadi, mereka telah melakukan kebohongan yang amat besar terhadap kami. Barangsiapa mengaku dan menyaksikan bahwa apa yang dituduhkan tadi adalah perbuatan kami, maka ketahuilah: bahwa kesemuanya itu adalah suatu penghinaan terhadap kami yang dicipta oleh musuh-musuh agama ataupun teman-teman syaithan dari menjauhkan manusia untuk mengikuti ajaran sebersih-bersih tauhid kepada Allah dan keikhlasan beribadah kepadaNya.

Kami beri’tiqad bahwa seseorang yang mengerjakan dosa besar, seperti melakukan pembunuhan terhadap seseorang Muslim tanpa alasan yang wajar, begitu juga seperti berzina, riba’ dan minum arak, meskipun berulang-ulang, maka orang itu hukumnya tidaklah keluar dari Islam (murtad), dan tidak kekal dalam neraka, apabila ia tetap bertauhid kepada Allah dalam semua ibadahnya." (Shiyanah al-Insan, m.s 475)

Lalu sahabat, darimana datangnya istilah Wahabi tersebut? Ya, sama dengan Ahmadiyah yang dilahirkan untuk melemahkan perjuangan umat Islam di India, itu semua datang dari kaum kafir penjajah yaitu Imperialis Inggris serta kaum-kaum munafik yang tak ingin kehilangan jabatan, serta pasukan Hasan bin Hibatullah Al Makrami dari Najran yang berakidah Syi'ah Bathiniyyah. Maka sebagai tanda, disebutlah para sahabat Muhammad bin Abdul Wahab dengan gelar Wahabiyah atau Wahabi. Hingga sekarang, Muslim ambigu mengikuti pola pikir kaum imperialis untuk terus memecah belah kita. Lalu BM Bagaimana Menyikapi itu semua? Belajarlah, baca itu Al Qur’an, baca itu sejarah yang shahih. ............................ Bersambung ......................... (Bang Malik)



-----
Note:
Status ini tidak menerima debat, apapun keyakinanmu peganglah, dan ini keyakinanku, aku ingin menjadi umatnya Muhammad SAW. Demi Menjaga Hati pembaca yang lain, komen yang kasar akan segera dihapus. Terima Kasih.

Bang Malik.... Jambi, 15 Januari 2014

Senin, 29 Juni 2009

Ku Ingin Kau Tahu

Ku ingin kau tahu ...

Bukannya aku tak ingin menanggapi, bukannya aku tak ingin serius, tapi
aku tak ingin memberikan harapan dalam ketidakpastian. Aku bukanlah
sosok manusia sempurna yang sesuai dengan harapanmu, aku hanyalah
seorang manusia yang tidak luput dari segala kekurangan.

Ku ingin kau tahu ...

Keadaanku saat inilah yang membuatku selalu banyak berpikir dalam
mengambil keputusan besar itu. Aku tidak ingin gegabah, aku tidak ingin
tergesa-gesa, aku tdak ingin salah langkah. Padahal, sebenarnya aku
sangat ingin segera menunaikan niat suci itu sesuai dengan harapanmu.

Ku ingin kau tahu ...


Aku sering berpikir dan merenung. Mungkin kau bisa menerimaku apa
adanya, tapi bagaimana dengan kedua orangtuamu, saudara-saudaramu, dan
keluarga besarmu yang lain? Aku tidak ingin masalah yang mungkin sepele
bagi kita, menjadi masalah besar bagi keluargamu.

Ku ingin kau tahu ...

Aku tidak ingin membuatmu kecewa, apalagi membuat kecewa keluargamu.
Aku tidak ingin di kehidupan baru nanti, kau menyesal karena aku telah
menjadi bagian dari hidupmu. Oleh karena itu, pikirkanlah dengan matang
sebelum kau memutuskan untuk menerimaku apa adanya.

Ku ingin kau tahu ...

Aku terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Aku hanyalah seorang anak
yang butuh belaian kasih sayang orangtuanya. Aku hanyalah seorang anak
yang belum bisa membahagiakan orangtua dan keluarga, karena saat ini,
aku harus hidup mandri dengan segala keterbatasan yang ada.

Ku ingin kau tahu ...

Aku hanyalah seorang manusia yang diberi anugerah 'lain' olehNya. Aku
hanya bisa menerima ketetapanNya, karena sebagai manusia, aku tidak
dapat mengubahnya. Tapi aku bersyukur, dengan anugerah tersebut, aku
masih bisa menjalani kehidupan ini dan merasakan karuniaNya.

Ku ingin kau tahu ...


Inilah aku apa adanya.

Teruntuk seseorang, entah di mana kini ia berada, yang kelak akan menjadi bagian dari hidupku.
================================================================
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Rabu, 17 Juni 2009

Antara Puasa Senin-Kamis dan Puasa Daud

Tanya:

Ada dua hal yang ingin saya tanyakan:

1. Tentang puasa sunnah Nabi Daud dan puasa Senin-Kamis. Saya sudah lama menjalani puasa Senin-Kamis. Dan akhir-akhir ini saya mulai belajar puasa Nabi Daud. Yang ingin saya tanyakan: lebih utama mana antara puasa Senin-Kamis yang merupakan sunnah Rasul dan puasa Nabi Daud?
2. Orang tua saya barusan mendapatkan rejeki dengan jumlah yang amat besar (menurut ukuran saya). Dan atas rejeki tersebut telah dikeluarkan zakat harta 2,5 %. Setelah dikeluarkan zakatnya, rejeki itu dibagikan kepada keluarga anak-anaknya. Yang saya tanyakan, apakah keluarga saya wajib mengeluarkan zakat lagi?

Demikian, atas penjelasannya saya mengucapkan banyak terima kasih.

Agus Siswantoro - Blitar


Jawab:


Saudara Agus,
Kalau memang kuat melakukan puasa Daud, lakukanlah karena Nabi saw. memerintahkan puasa ini kepada umatnya yang ingin melakukan puasa 'dahr' (puasa sepanjang tahun). Namun Nabi melarang puasa 'dahr' ini karena ia tidak lebih baik dari pada puasanya Nabi Daud yang cuma separoh dahr: sehari puasa sehari berbuka. Anjuran ini khusus bagi orang-orang tertentu, yang mampu yang masih haus ibadah. Misalnya dia, setelah biasa puasa Senin-Kamis, tiga hari 'ayyamul bidh' (13, 14, dan 15 setiap bulan hijriyah), ternyata masih kuat lebih dari itu.

Dilarangnya 'puasa dahr' karena ditakutkan jika melakukan puasa ini orang akan melupakan kewajibannya atau mengabaikan hak orang lain, juga hak anggota tubuhnya sendiri. Maka puasa Daud adalah jalan tengah agar manusia tetap memperhatikan dunianya, bukan melulu akhirat. Keseimbangan dunia dan akhirat inilah yang diinginkan oleh Islam.

Tapi jika dengan melakukan puasa Daud ini kewajiban Saudara kepada orang lain-semisal istri-menjadi terbengkalai, sebaiknya Anda tidak melakukan puasa ini. Puasa ini sunnah sementara hak istri terhadap Anda adalah kewajiban. Dahulukan kewajiban dari sunnah.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis tentang puasa Daud ini yang artinya, "...puasalah sebaik-baik puasa, puasanya Daud! Dia berpuasa sehari dan berbuka sehari...".

Imam Muslim dalam kitabnya juga meriwayatkan sebuah Hadis yang artinya, "Puasa yang paling disukai Allah adalah puasanya Daud as.: ia berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Daud; ia tidur separoh malam, beribadah sepertiga malam, dan tidur lagi seperenamnya."

Utama mana antara Senin-Kamis dan Daud?
Dalam hal ini, persoalannya bukan sekedar amalan mana yang lebih utama, tapi lebih ke personal yang melakukannya: mampu atau tidak. Bagi orang yang mampu tentu ia lebih banyak memperoleh pahala. Seperti hadis Nabi saw. -riwayat Muslim- kepada Sayidah Aisyah "Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu". (Hadis ini telah menjadi dasar terbentuknya sebuah kaidah fikih: "maa kaana aktsaru fi'lan kaana aktsaru fadhlan", artinya "Semakin sungguh-sungguh suatu ibadah dilakukan maka semakin besar fadhilah/pahalanya".) Kesungguhan di sini meliputi dua hal: kualitas dan kuantitas. Jadi semakin bagus kualitas dan kuantitasnya, semakin besar pahalanya.


Shocheh Ha.

Selasa, 16 Juni 2009

Empat Kejahatan Orang Tua Terhadap Anak

Rasulullah saw. sangat penyayang terhadap anak-anak, baik terhadap keturunan beliau sendiri ataupun anak orang lain. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. mencium Hasan bin Ali dan didekatnya ada Al-Aqra’ bin Hayis At-Tamimi sedang duduk. Ia kemudian berkata, “Aku memiliki sepuluh orang anak dan tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.” Rasulullah saw. segera memandang kepadanya dan berkata, “Man laa yarham laa yurham, barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.” (HR. Bukhari di Kitab Adab, hadits nomor 5538).

Bahkan dalam shalat pun Rasulullah saw. tidak melarang anak-anak dekat dengan beliau. Hal ini kita dapat dari cerita Abi Qatadah, “Suatu ketika Rasulullah saw. mendatangi kami bersama Umamah binti Abil Ash –anak Zainab, putri Rasulullah saw.—Beliau meletakkannya di atas bahunya. Beliau kemudian shalat dan ketika rukuk, Beliau meletakkannya dan saat bangkit dari sujud, Beliau mengangkat kembali.” (HR. Muslim dalam Kitab Masajid wa Mawadhi’ush Shalah, hadits nomor 840).

Peristiwa itu bukan kejadian satu-satunya yang terekam dalam sejarah. Abdullah bin Syaddad juga meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu datang shalat Isya, Rasulullah saw. datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuha peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. An-Nasai dalam Kitab At-Thathbiq, hadits nomor 1129).

Usamah bin Zaid ketika masih kecil punya kenangan manis dalam pangkuan Rasulullah saw. “Rasulullah saw. pernah mengambil dan mendudukkanku di atas pahanya, dan meletakkan Hasan di atas pahanya yang lain, kemudian memeluk kami berdua, dan berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena sesungguhnya aku mengasihi keduanya.’” (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5544).

Begitulah Rasulullah saw. bersikap kepada anak-anak. Secara halus Beliau mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan anak-anaknya. Beliau juga mencontohkan dalam praktik bagaimana bersikap kepada anak dengan penuh cinta, kasih, dan kelemahlembutan.

Karena itu, setiap sikap yang bertolak belakang dengan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., adalah bentuk kejahatan kepada anak-anak. Setidak ada ada empat jenis kejahatan yang kerap dilakukan orang tua terhadap anaknya.

Kejahatan pertama: memaki dan menghina anak

Bagaimana orang tua dikatakan menghina anak-anaknya? Yaitu ketika seorang ayah menilai kekurangan anaknya dan memaparkan setiap kebodohannya. Lebih jahat lagi jika itu dilakukan di hadapan teman-teman si anak. Termasuk dalam kategori ini adalah memberi nama kepada si anak dengan nama yang buruk.

Seorang lelaki penah mendatangi Umar bin Khattab seraya mengadukan kedurhakaan anaknya. Umar kemudian memanggil putra orang tua itu dan menghardiknya atas kedurhakaannya. Tidak lama kemudan anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sang anak memiliki hak atas orang tuanya?”
“Betul,” jawab Umar.
“Apakah hak sang anak?”
“Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya Al-Qur’an,” jawab Umar.
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, ia adalah wanita berkulit hitam bekas hamba sahaya orang majusi; ia menamakanku Ju’lan (kumbang), dan tidak mengajariku satu huruf pun dari Al-Qur’an,” kata anak itu.
Umar segera memandang orang tua itu dan berkata kepadanya, “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”

Rasulullah saw. sangat menekankan agar kita memberi nama yang baik kepada anak-anak kita. Abu Darda’ meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab Adab, hadits nomor 4297).

Karena itu Rasulullah saw. kerap mengganti nama seseorang yang bermakna jelek dengan nama baru yang baik. Atau, mengganti julukan-julukan yang buruk kepada seseorang dengan julukan yang baik dan bermakna positif. Misalnya, Harb (perang) menjadi Husain, Huznan (yang sedih) menjadi Sahlun (mudah), Bani Maghwiyah (yang tergelincir) menjadi Bani Rusyd (yang diberi petunjuk). Rasulullah saw. memanggil Aisyah dengan nama kecil Aisy untuk memberi kesan lembut dan sayang.

Jadi, adalah sebuah bentuk kejahatan bila kita memberi dan memanggil anak kita dengan sebutan yang buruk lagi dan bermakna menghinakan dirinya.

Kejahatan kedua: melebihkan seorang anak dari yang lain

Memberi lebih kepada anak kesayangan dan mengabaikan anak yang lain adalah bentuk kejahatan orang tua kepada anaknya. Sikap ini adalah salah satu faktor pemicu putusnya hubungan silaturrahmi anak kepada orang tuanya dan pangkal dari permusuhan antar saudara.

Nu’man bin Basyir bercerita, “Ayahku menginfakkan sebagian hartanya untukku. Ibuku –’Amrah binti Rawahah—kemudian berkata, ‘Saya tidak suka engkau melakukan hal itu sehinggi menemui Rasulullah.’ Ayahku kemudian berangkat menemui Rasulullah saw. sebagai saksi atas sedekah yang diberikan kepadaku. Rasulullah saw. berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melakukan hal ini kepada seluruh anak-anakmu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Rasulullah saw. berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.’ Ayahku kemudian kembali dan menarik lagi sedekah itu.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Hibaat, hadits nomor 3055).

Dan puncak kezaliman kepada anak adalah ketika orang tua tidak bisa memunculkan rasa cinta dan sayangnya kepada anak perempuan yang kurang cantik, kurang pandai, atau cacat salah satu anggota tubuhnya. Padahal, tidak cantik dan cacat bukanlah kemauan si anak. Apalagi tidak pintar pun itu bukanlah dosa dan kejahatan. Justru setiap keterbatasan anak adalah pemacu bagi orang tua untuk lebih mencintainya dan membantunya. Rasulullah saw. bersabda, “Rahimallahu waalidan a’aana waladahu ‘ala birrihi, semoga Allah mengasihi orang tua yang membantu anaknya di atas kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban)

Kejahatan ketiga: mendoakan keburukan bagi si anak

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tsalatsatu da’awaatin mustajaabaatun: da’watu al-muzhluumi, da’watu al-musaafiri, da’watu waalidin ‘ala walidihi; Ada tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang teraniaya, doa musafir, dan doa (keburukan) orang tua atas anaknya.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1828)

Entah apa alasan yang membuat seseorang begitu membenci anaknya. Saking bencinya, seorang ibu bisa sepanjang hari lidahnya tidak kering mendoakan agar anaknya celaka, melaknat dan memaki anaknya. Sungguh, ibu itu adalah wanita yang paling bodoh. Setiap doanya yang buruk, setiap ucapan laknat yang meluncur dari lidahnya, dan setiap makian yang diucapkannya bisa terkabul lalu menjadi bentuk hukuman bagi dirinya atas semua amal lisannya yang tak terkendali.

Coba simak kisah ini. Seseorang pernah mengadukan putranya kepada Abdullah bin Mubarak. Abdullah bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau pernah berdoa (yang buruk) atasnya.” Orang itu menjawab, “Ya.” Abdullah bin Mubarak berkata, “Engkau telah merusaknya.”

Na’udzubillah! Semoga kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan orang itu. Bayangkan, doa buruk bagi anak adalah bentuk kejahatan yang akan menambah rusak si anak yang sebelumnya sudah durhaka kepada orang tuanya.

Kejahatan keempat: tidak memberi pendidikan kepada anak

Ada syair Arab yang berbunyi, “Anak yatim itu bukanlah anak yang telah ditinggal orang tuanya dan meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan hina. Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang tidak dapat dekat dengan ibunya yang selalu menghindar darinya, atau ayah yang selalu sibuk dan tidak ada waktu bagi anaknya.”

Perhatian. Itulah kata kuncinya. Dan bentuk perhatian yang tertinggi orang tua kepada anaknya adalah memberikan pendidikan yang baik. Tidak memberikan pendidikan yang baik dan maksimal adalah bentuk kejahatan orang tua terhadap anak. Dan segala kejahatan pasti berbuah ancaman yang buruk bagi pelakunya.

Perintah untuk mendidik anak adalah bentuk realisasi iman. Perintah ini diberikan secara umum kepada kepala rumah tangga tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan dan kelas sosial. Setiap ayah wajib memberikan pendidikan kepada anaknya tentang agamanya dan memberi keterampilan untuk bisa mandiri dalam menjalani hidupnya kelak. Jadi, berilah pendidikan yang bisa mengantarkan si anak hidup bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.

Perintah ini diberikan Allah swt. dalam bentuk umum. “Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Adalah sebuah bentuk kejahatan terhadap anak jika ayah-ibu tenggelam dalam kesibukan, sehingga lupa mengajarkan anaknya cara shalat. Meskipun kesibukan itu adalah mencari rezeki yang digunakan untuk menafkahi anak-anaknya. Jika ayah-ibu berlaku seperti ini, keduanya telah melanggar perintah Allah di surat Thaha ayat 132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

Rasulullah saw. bersabda, “Ajarilah anak-anakmu shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila tidak melaksanakan shalat) pada usaia sepuluh tahun.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shalah, hadits nomor 372).

Ketahuilah, tidak ada pemberian yang baik dari orang tua kepada anaknya, selain memberi pendidikan yang baik. Begitu hadits dari Ayyub bin Musa yang berasal dari ayahnya dan ayahnya mendapat dari kakeknya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Maa nahala waalidun waladan min nahlin afdhala min adabin hasanin, tak ada yang lebih utama yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi adab yang baik.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr wash Shilah, hadits nomor 1875. Tirmidzi berkata, “Ini hadits mursal.”)

Semoga kita tidak termasuk orang tua yang melakukan empat kejahatan itu kepada anak-anak kita. Amin.

Minggu, 14 Juni 2009

Hukum Mencium Tangan dan Membungkukkan Badan

Tanya: “Ustadz benarkah bahwa mencium tangan orang dan membungkukkan badan maka hal tersebut bukanlah syariat Islam melainkan ajaran kaum feodalis? Jika demikian, mohon dijelaskan. Jazakumullah”.

Jawab:

Ada beberapa hal yang ditanyakan:

Pertama, masalah cium tangan

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani mengatakan,

“Tentang cium tangan dalam hal ini terdapat banyak hadits dan riwayat dari salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa hadits tersebut shahih dari Nabi. Oleh karena itu, kami berpandangan bolehnya mencium tangan seorang ulama (baca:ustadz atau kyai) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.

1. Cium tangan tersebut tidaklah dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga pak kyai terbiasa menjulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Begitu pula murid terbiasa ngalap berkah dengan mencium tangan gurunya. Hal ini dikarenakan Nabi sendiri jarang-jarang tangan beliau dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus menerus sebagaimana kita ketahui dalam pembahasan kaedah-kaedah fiqh.

2. Cium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan lebih baik dari pada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat sebagai realita yang ada pada sebagai kyai.

3. Cium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui semisal jabat tangan. Jabat tangan adalah suatu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Jabat tangan adalah sebab rontoknya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits. Oleh karena itu, tidaklah diperbolehkan menghilangkan sunnah jabat tangan karena mengejar suatu amalan yang status maksimalnya adalah amalan yang dibolehkan (Silsilah Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah).

Akan tetapi perlu kita tambahkan syarat keempat yaitu ulama yang dicium tangannya tersebut adalah ulama ahli sunnah bukan ulama pembela amalan-amalan bid’ah.

Kedua, membungkukkan badan sebagai penghormatan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِى بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ « لاَ ». قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ « لاَ وَلَكِنْ تَصَافَحُوا ».

Dari Anas bin Malik, Kami bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami boleh membungkukkan badan kepada orang yang dia temui?”. Rasulullah bersabda, “Tidak boleh”. Kami bertanya lagi, “Apakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?”. Nabi bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaknya kalian saling berjabat tangan” (HR Ibnu Majah no 3702 dan dinilai hasan oleh al Albani).

Dari uraian di atas semoga bisa dipahami dan dibedakan antara amalan yang dibolehkan oleh syariat Islam dan yang tidak diperbolehkan.
No Copyright@

Hak Cipta Dilindungi Allah SWT, Bila Ada Salah Kata Mohon Dimaafkan. Lagi Belajar sich ^_^
Diterima Cacian, Makian, Saran dan Kritik
Email: abu.aifah1@gmail.com
CP/Whatsapp :
0821-7816-9560

KPR Non Ribawi Jambi

 

.:: Inspirasi Bang Malik ::. Published @ 2014 by Bang Malik

Blogger Templates