“Permainan” OKNUM Ikhwan dan Akhwat Essay ini adalah bentuk Shock Therapy terhadap manusia-manusia yang mengaku sebagai kader dakwah. M...
Followers
Nasihat Diri
Diri Yang Sedang Berusaha & Berjuang Menjadi Diri Yang Diinginkan Ummat. Kesalahan Adalah Awal dari Pembelajaran.
-----------
Hidup Ini Indah, Maka Jalanilah Apa Adanya, Niatkan Segala Sesuatu Hanya Untuk Meraih Ridho-NYA. Cobaan yang datang, hadapilah dengan kesabaran. Kenikmatan yang datang, sikapilah dengan penuh syukur. Maka nikmat Allah mana yang hendak kamu dustakan?. "Wasta'inu Bishobri Washsholah"
(Sulthan Malik, 2009).
Cinta bukanlah tujuan Cinta adalah sarana untuk menggapai tujuan Jangan kau sibuk mencari definisi dan makna cinta Namun kau lalai terhadap Dzat yang menganugrahkan cinta Dzat yang menumbuhsuburkan rasa cinta Dzat yang memberikan kekuatan cinta Dzat yang paling layak dicintai Allah, Sang Pemilik Cinta Cinta memang tak kenal warna Cinta tak kenal baik buruk Cinta tak kenal rupa dan pertalian darah Memang begitulah adanya Karena yang mengenal baik buruk, warna dan rupa Adalah sang pelaku cinta yang menggunakan akal pikirannya Cinta bukanlah kata benda Cinta adalah kata kerja Cinta bukan sesuatu tanpa proses Cinta itu butuh proses Jangan mau kau terjatuh dalam cinta Namun, bangunlah cinta itu Bangunlah cinta dengan keimanan Maka kau akan mengorbankan apa saja Demi meraih keridhaan Sang Pemilik Cinta Bangunlah cinta dengan ketakwaan Maka kau tak kan gundah gulana Ketika kehilangan cinta duniawi Karna kau yakin Yang kau cari adalah cinta dan ridha Allah Bukan cinta yang sementara
Essay ini adalah bentuk Shock Therapy terhadap manusia-manusia yang mengaku sebagai kader dakwah. Mereka yang masih berada di dunia kampus (Aktivis Kampus), dan di dunia di mana usia pernikahan sudah mendekat (Pasca Kampus).
Di sebuah negeri antah berantah, Allah menghendaki sebuah kampus di kota tersebut mencapai kefutuhan. BEM di kuasai, memiliki kader yang banyak dan tak ketinggalan legalisasi kampus terhadap organisasi ini telah didapat. Sehingga berbagai kegiatan begitu mudah mereka laksanakan tanpa aral melintang.
Teringat sebuah Taujih dari seorang Ustadzah (lupa namanya), dikatakan bahwasanya sebuah kampus ketika dalam perjalanan dakwah tidak mengalami cobaan yang melintang. Semua begitu mudah. Namun bukan berarti dakwah mereka baik-baik saja. Justru sebaliknya, dakwah seperti inilah yang bermasalah. Kenapa bermasalah, karena Fitrah atau Sunnatullah-nya sebuah pergerakan dakwah adalah besar dan beruntunnya cobaan yang menghalang mereka. Jadi banggalah bagi kita ketika dalam perjalanan dakwah ini, kita banyak menemukan aral melintang, namun ketika kita mampu melaluinya, maka akan Allah SWT naikkan derajat orang-orang yang di dalamnya. Tidak jarang, mereka yang merasa kampusnya tenang-tenang saja, menjadi ujub, sombong, dan syum’ah. Wallahu a’lam
Kampus ini sudah mengalami kefutuhan sangat lama. Kader mereka begitu banyak di setiap fakultas lebih 20 orang menjadi anggota inti. Kuantitas maju, tidak dibarengi dengan kualitas yang pas sesuai dengan manhaj yang mereka pegang.
Permainan Hati Aktivis Kampus
Dialog yang disampaikan salah satu MR-ku dulu.
“Ass.. Ukh, moga sehat ya, bisa datang syuro’ hari ini, semoga kesibukan anti tidak menghalangi anti untuk terus istiqomah berada di jalan dakwah ini. Sebagai sodara ana senantiasa mendo’akan saudara ana.” SMS dari seorang ikhwan.
“Wass, iya akh, jazakallah atas do’anya. Tapi ana agak sedikit sakit gigi nich, sudah minum obat padahal.” Balas si Akhwat.
“Hayyoo,, jarang sikat gini kali anti... heheh kidding” Balas si Ikhwan.
“He,, enak aja, antum kali yang jarang.. piss.” Balasnya kemudian..
Dan panjanglah malam itu SMS mereka. Saling menunggu jawaban satu sama lain. Kesan pertama tergoda syetan, selanjut terserah syetan.!!! Akhirnya mereka berdua benar-benar kesyetanan. Karena “permainan” itupun terjadi
Contoh kasus adalah kampus di negeri antah berantah itu, entah bagaimana komunikasi mereka. Dengan jantan seorang ketua di salah satu fakultas (Ikhwan) menembak Akhwat untuk diajak menjadi bagian dari hidupnya, namun bukan untuk menikah, tapi HUBUNGAN TANPA STATUS karena PACARAN bagi mereka adalah HARAM. Begitulah pintarnya syaithan menganggu anak cucu Adam. Kalau seperti itu apa bedanya?
Kasus ini kasus klasik yang tak bisa terbantahkan, seorang Akhwat dengan pasrahnya “disetubuhi” oleh Ikhwan sehingga mengalami “kehamilan” dalam tanda kutip saya maksud adalah Inbox penuh dengan satu nama. Si Fulan.
Beranikah sang Ikhwan bertanggung jawab? Sangat sedikit yang berani, karena kasus persidangan masalah “permainan” ini, makhluk berlabel ikhwan ini selalu akan menyalahkan si Akhwat sebagai Starting Case. Dan jatuhlah harga diri akhwat tersebut semurah harga SMS yang dia berikan kepada si Ikhwan Rp. 88/SMS, nahasnya bila si Akhwat menggunakan fasilitas SMS GRATIS. Na’udzubillah, lebih murah dari pelacur yang bila short time mendapat Rp. 150.000,-. Duuuhh Syaithon, jangan sampai kau ganggu anak dan cucu kami kelak.
Pada suatu masa, penulis pernah mengirimkan sebuah SMS kepada seorang ustadz, karena kasus ini kembali terulang, Ikhwan memulai kalimat-kalimat canda ke dalam ponsel akhwat.
“Assalamu’alaykum, Ustadz, ana Fulan ingin bertanya, adakah toleransi terhadap ikhwan yang suka mecandai seorang akhwat melalui SMS, ana tidak mampu menegur, karena nantinya ana akan dinilai berlebihan (saklek), padahal kasus seperti ini bisa saja menjadi penghambat dakwah itu sendiri, jzk?” (Sent Item, 18.57)
“Waslm. Jangan memulai untuk melakukan kemaksiatan walau melalui SMS, sebab walaupun kecil akan menjadi dosa besar, karena bisa terjadi zina hati, serta ada kemubaziran, dikarenakan tidak pada tempatnya. Dalam agama tentu tidak dibolehkan, kalaupun dibolehkan sesuai kebutuhan (urgensinya) saja yang mendesak. Coba dibicarakan kembali di bidang kaderisasi agar ada kebijakan yang bisa dilakukan, wallahu a’lam”. (Ust. ***** *****.Lc, 19.10 WIB)
Beliau adalah sosok ustadz yang sangat tegas dalam kasus seperti ini. Dia pula yang menyampaikan bahaya SMS Tausyiah Ikhwan. Dengan nama lain Coklat bermerek Tausyiah (Salim.A.Fillah). Hati siapa yang tak terganggu? Sudah habiskah Ikhwan di muka bumi ini. Seorang Al Akh, yang saat ini berada di Malaysia mengatakan, Sesungguhnya Syaithon itu sangat pintar membantu manusia mencari alasan untuk pembenaran terhadap kemaksiatan hati yang dia lakukan. Kamu yang membaca ini salah satunya mungkin? Hayyoo.. pasti sedang mencari pembenaran, kan? Hati-hati, karena kelak Syaithon akan berlepas diri darimu, karena pada dasarnya ia sangat takut kepada Allah SWT.
Permainan Hati Aktivis Pasca Kampus
Seorang dosen mengatakan, bahwasanya The Real World adalah dunia pasca kampus. Di mana Konsentrasi mereka (Eks-Mahasiswa) akan terpecah, antara mencari ma’isyah (nafkah-kerja) dan menjaga keistiqomahan di jalan dakwah.
Rata-rata seorang lelaki lepas dari kampus paling muda usia 23an. Kemudian tiga sampai lima tahun pasca kampus, mereka akan dipusingkan bagaimana mendapatkan jodoh, dengan sistem yang serba “ribet”, menggunakan proposal dan tetekbengek lainnya.
Jujur penulis akui, sistem ini sangat baik dan sangat bagus. Tapi apakah relevan ditengah gejolak informasi yang begitu deras mengalir, sehingga ikut mengatur pola aliran energi ke otak, sehingga melahirkan pikiran-pikiran yang menganggu keistiqomahan seseorang. Berbagai keinginan muncul di kepala masing-masing manusia.
Karena sistem yang “ribet” inilah kemudian para da’i muda ini berubah menjadi “buaya” darat atau penulis punya istilah baru NELAYAN CINTA (menjelang Proposal turun, banyak ikhwan menjadi gatel menggoda akhwat). Mereka punya jaring bermerek Tausyiah dengan jalinan Taujih sebagai perangkapnya. Ketika ada yang tertangkap, maka sang Nelayan akan memeliharanya, dan kembali lagi “permainan” itu dimulai. Sang akhwat di prospek oleh sang ikhwan, sehingga HAL YANG TAK PERLU DIANGGAP PERLU. Tanpa melihat adakah Urgensi dari sapaan atau teguran yang dia berikan kepada si Akhwat? Akhwat yang sudah terkena jaringnya akan terus dijaga, dan makin terlena dengan perhatian makhluk melabeli diri sebagai seorang Da’i.
Di bawah ini ada tiga cerita dari sumber yang berbeda, namun masalahnya sama. Permainan hati aktivis pasca kampus;
Pertama, Seorang teman pernah curhat, ketika sehari setelah ijab qobul, istrinya memperlihatkan sebuah SMS dari seorang ikhwan yang sama-sama mereka kenal, ternyata menyimpan rasa dan akan melamar beberapa bulan ke depan. Sungguh, aku tidak tahu siapa orangnya, namun karena sang pengecut ini adalah senior kami berdua, tentu aku sangat marah. Jadi selama ini, apa tujuan beliau berada bersama-sama kami.
Kedua, suatu malam lebaran, seorang teman bersama temannya silaturahim ke rumah seorang ikhwan yang sudah berkeluarga. Setelah beberapa lama, munculah seorang muslimah dari balik tirai pintu pembatas ruang tamu dan ruang belakang dengan membawa makanan yang penuh barokah secukupnya. Panjang lebar kita berbincang-bincang. Dan tiba saatnya pulang. Ditengah perjalanan, di atas motor Sang ikhwan nyeletuk “Akh, antum liat akhwat tadi?” tanyanya. “Sekilaslah, kenapa akh?” tanya teman satu lagi. “Akhwat itu dulu pernah suka sama ana”. Jdeerrrr.....
Lagi dan lagi, ketika persidangan sebuah kasus, seorang ikhwan akan dengan mudah menyalahkan akhwat sebagai tokoh yang memulai. Dan yang satu ini, lagi-lagi seorang ikhwan mengeluarkan statement, yang entah apa yang akan terjadi, bila suami si Akhwat mendengar ini semua. Temanku hanya bisa beristighfar.
Ketiga, seorang istri berbincang-bincang dengan suami yang baru menikahinya beberapa hari. Dia mengatakan bahwa dia memiliki beberapa ikhwan nyebelin (black list), kemudian dia menunjukkan sebuah lagu dari seorang ikhwan sebelum mereka menikah. Sang suami mendengarkan dengan baik. Alangkah kagetnya beliau seorang ikhwan mengirimkan lagu bertemakan cinta kepada sang akhwat. Sang suami bertanya, kok bisa? Baca saja email balasan dari Ina.
Ketika dibuka email itu, memang benar-benar aneh. Apa yang melandasi pengiriman lagu bertema cinta ini. Jadi ingat zaman dulu, ketika mengirim surat, kalimat terakhirnya “KALAU TIDAK SUKA DENGAN KEDATANGAN SURAT INI SILAKAN DISOBEK SAJA” tapi karena sekarang ini teknologi sudah maju, jadi penggalan akhir surat berbunyi “KALAU TIDAK SUKA DENGAN KIRIMAN INI DI-DELETE SAJA” via e-mail githu lho!
Ingin mencoba membahas ini di hadapan ustadz. Tapi sudahlah maklumin, karena umur-umur waktunya menikah namun belum juga bisa menikah, akibatnya menjadikan seseorang RAWAN GANJEN hingga cenderung MENIKMATI KEGENITANNYA, dan hilang akal sehatnya. Alasan khilaf dan mengaku bukan malaikat, tetapi di depan para ustadznya dan lainnya berlagak polos, hanif dan sholeh.
Istriku menjuluki oknum-oknum dalam kasus-kasus di atas adalah. Wajah ustadz Otak Daki. Don’t judge the book by its cover!! Hati-hati ikhwan, kena Black List akhwat and kemudian disebar ke akhwat lain. (Istriku en temen2nya punya Black List ikhwan)... Alhamdulillah, penulis gak kena ^_^
Demikianlah, tulisan yang bertujuan sebagai Shock Therapy untuk mereka-mereka yang berani bermain hati dan menikmati kegenitan-kegenitan diri. Tanpa disadari, justru ulah kita inilah dakwah menjadi terhambat, sehingga Allah SWT marah dan menunda kemenangan besar kita.
Mari bersama kita perbaiki diri, jadilah kita pionir untuk mengentaskan Qodhoyatul Ummah, jangan sampai justru kita yang menjadi penambah masalah ummat. Kita bersuara perbaikan akhlak, tapi akhlak kita masih akhlak orang munafik. Sholeh ketika bersama komunitas, namun di belakang komunitas kita berbuat kerusakan (fasad). Wallahu a’lam
Ana, Antum, Mereka, Kalian, Kita semua pasti bisa berubah!!! Aamiin
Telanaipura, 00.35 WIB (13-3-2010)
NB : Tulisan ini muncul, karena Ide-nya disetujui oleh 2 orang akhwat Friend List-ku di Plurk. Ukhty Mutiah n Ukhty Nia , topiknya ada DISINI
Mecintai lawan jenis adalah sebuah sunnatullah serta karunia dari Allah SWT yang menandakan bahwa kita “normal” dan memiliki sifat khusus manusia. Karena hanya manusia berperilaku binatanglah yang bilamana dia cenderung menyukai sesama jenis (baca:Homoseksual). Tiada ungkapan lain selain rasa syukur terhadap Sang Pemilik cinta.
Rasa cinta adalah sebuah karunia terindah dari Allah SWT kepada setiap hamba-Nya. Karena dengan cinta hidup akan terasa indah, tenteram dan damai. Cinta seyogyanya kita letakkan dan kita sikapi dengan penuh kemuliaan lagi kesucian, karena sama kita ketahui dari mana ia berasal.
Banyak umat manusia mengatakan ia seorang pecinta, namun perilakunya jauh dari sifat cinta itu sendiri. Cintanya membawa ia pada perilaku celaka lagi hina. Padahal cinta itu seyogyanya adalah sesuatu hal yang menyelamatkan lagi menenteramkan sang pecinta.
Di dalam agama yang suci ini, perasaan cinta adalah perasaan yang dibenarkan oleh Allah SWT, ada tiga kategori cinta yang harus kita bina di dalam kehidupan sebagai umat manusia. Pertama, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, cinta kepada manusia, dan yang ketiga cinta kepada harta duniawi (baca:menjaga).
Cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan cinta kepada manusia dan harta adalah bentuk cobaan dari Allah SWT untuk menentukan kadar keimanan kita terhadap-Nya, apakah cinta kita melebihi cinta kita kepada-Nya. Sungguh cinta kepada selain Allah SWT adalah berlaku hanya untuk sementara, pun kepada suami atau istri kita, sebab ia bergantung pada keadaan atau moment.
Namun bukan berarti kita tidak boleh mencinta yang lain –manusia–, hal tersebut dibenarkan, tetapi haruslah ia dibina atas dasar cinta karena Allah. Oleh sebab Allah yang menciptakan insan yang kita cintai itu. Oleh karena itu kecintaan kita kepada manusia sepatutnyalah menjadi wadah untuk mendapatkan keredhoan Allah SWT.
Pertanyaannya, bagaimana kita mengaplikasikan cinta kita kepada manusia? Pertama, kita harus senantiasa mendahului kehendak Allah SWT sebelum kita penuhi kehendak orang yang kita cintai. Kedua, cinta kepada manusia haruslah berlandaskan kepada syari’at dan ajaran Islam, jangan sama kita celaka dibuatnya sehingga kita terperosok pada hubungan haram berlabel pacaran, bahkan terjerumus dalam perzinahan.
Maka dari itu landaskan cinta karena Allah iringi ia dengan perilaku akhlahkul karimah sesuai dengan kepribadian islam itu sendiri. Kemudian evaluasi selalu cinta kita, luruskan terus niatnya, jangan sampai ia berubah dari niat suci berubah menjadi memperturuti hawa nafsu belaka.
Petaka “Cinta”
Tidak bisa dipungkiri cinta juga terkadang membawa petaka kepada sang pecinta, dikarenakan ulah mereka salah meletakkan makna cinta. Bermula dari pandangan mata dari sekadar rasa simpati, terbawa hingga ke alam bawah sadar dan munculah rasa cinta. Wajar hal yang sangat wajar. Tetapi ia menjadi kurang ajar manakala ia kita aplikasikan dengan menikmati kegenita-kegenitan yang melenakan.
Tak jarang, petaka ini muncul di tengah para aktivis dakwah, ketika umur telah sampai di ujung usia pernikahan, mereka rela menjatuhkan iffah mereka (khusus akhwat), dari da’i menjadi penggoda (khusus ikhwan).
Da’i penggoda ini dengan gagah dan penuh kepercayaan diri yang tinggi mengoleksi contact person dari tim kaderisasi, kemudian bak ahli fuqoha’ dan Muhaditsin, sang Da’i penggoda ini menyebar SMS kepada para muslimah, dengan dalih “berbagi” tapi sebaliknya hal tersebut tak ubahnya topeng belaka, bak zionis Yahudi selalu ada “Black Campaign” di setiap tindakan mereka yang tampak “Positif”bila dilihat dari luar.
Berdasarkan pengakuan dari beberapa sumber banyak muslimah (akhowat) yang cemas terhadap hal ini, namun tak sedikit yang akhirnya menikmati dan kemudian saling berbalas SMS, dari mengirim tanya jawab, hingga saling mengirim hal-hal yang tak penting, nahasnya sang da’i penggoda ini berani mengirim sesuata yang tak penting, dari photo hingga lagu-lagu MP3, sebab apa? Karena lemahnya jiwa sang akhwat, sehingga da’i penggoda ini berani melakukan hal demikian. Sekali lagi alasannya adalah “berbagi”.
Siapakah yang patut disalahkan? Ikhwankah atau akhwatkah? Keduanya salah dalam kasus ini. Ikhwan pasti semua tahu bahwa se-militan apapun seorang muslimah bila diberi perhatian khusus dan spesial pastilah tak sedikit dari mereka yang berbunga-bunga, karena sunnatullah mereka diberi jiwa yang lembut, karena jiwa lembut mereka diciptakan Allah SWT adalah untuk menenteramkan hati suaminya kelak, bukan untuk menikmati kegenita-kegenitan yang dipancing oleh para da’i penggoda ini. Disinilah cinta itu berubah dari rahmat dan karunia Allah menjadi petaka. Terhambatnya dakwah, lunturnya iffah para muslimah, hilangnya ghiroh dakwah para da’i muda ketika usia telah sampai pada masanya untuk menikah. Bersabarlah akhi wa ukhti, ingatlah apa yang Allah SWT janjikan untuk kita;
“wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”(QS.24:26)
Apakah kita tidak yakin dengan janji Allah ini? Sehingga kita rela melunturkan iffah kita, sehingga kita rela merusak dakwah kita. Percayalah Allah bersama kita, Allah tidak akan dzolim kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqomah berada di jalan-Nya. Saudaraku, mari mulai dari sekarang kita saling menjaga ruhiyah kita, berjuang bersama dalam dakwah. Insya Allah, bidadari dan pangeran-pangeran syurga itu akan datang kepada kita. Dan pastinya perayaan cinta itu akan kita nikmati jua. Allahu Akbar!!!
Alhamdulillah berdasarkan hasil perhitungan kami berdua – aku dan kawanku – kita sudah melewati +/-18 hari menjadi sepasang suami istri yang insya Allah diridhoi dan dirahmati Allah SWT.
Ada banyak momen-momen yang telah kami lalui, dari kemesraan dan kemasaman. Hehe,, manis asem asin rame rasanya, githu deh yang kami lalui. Ummhh.. mo nulis apa ya perasaan liat dia enak bener nulis tentang kisah 18+ ini.
Setidaknya aku sudah tau watak temenku ini dari semenjak menjadi jundinya. Dia keras orangnya dan bisa dilihat dari pola pikirnya didalam khazanah keIslaman. Kalau orang sok moderat kayak rombongan anjing-anjing yahudi di Utan Kayu itu, pasti kawanku ini dituding Radikal en Ekstrim,,, gpp cinta, penilaian orang gak bikin kita mati kok ;).
Ahhh, aku gak jadi nulis 18+ lah, karena sudah terwakili oleh tulisan beliau, sekarang mo cerita aja tentang awal kisah dari pertama ketemu dia hingga dapat menjalani hari2 sebagai suami istri sampai tulisan ini diterbitkan.
Syarifah Lestari yang kukenal ini awalnya dari sebuah tulisan di Majalah Sabili. Aku tertegun dan sangat tersentuh sekali dengan tulisannya berjudul “nge-take bukan khitbah”. Lupa gmn aslinya tulisan itu, karena klo gak salah sekitar tahun 2007 lah. Dihadapan temanku yang bernama Andhika Arnoldy –mungkin dia lupa aku pernah bilang ini- “akh, penulisnya orang jambi, akhwat kayaknyo, klo ketemu ane khitbah ahh”. Ujarku bercanda., Aku sendiri lupa jawaban dia apa waktu itu.
Selang 2 tahun, akhirnya aku bertemu dengan penulis yang ada di majalah tersebut, dan jujur aku sudah lupa dengan nama penulis di majalah tersebut. Sehingga suatu hari, aku ingin buat acara Bedah Buku KCB “Ketika Cinta Bertasbih”. Alhamdulillah ada akhwat ngasih nomor orang FLP. “Assalamu’alaykum afwan ini kak tari ya” “wa’alaykumsalam…bla.bla.bla… Wkakaka… lucu deh klo inget awal aku bicara ma beliau, gak bakal kepikiran dia akan ada disampingku dan menemani hari2 indahku, berjuang berdua untuk dakwah ilallah.
Setelah berapa lama dari sana, aku gabung dengan komunitas beliau, karena aku mo jadi penulis. Akhirnya aku diterima dan lulus dengan tulisan ala kadarnya dan terkadang bila sang pembaca mendeskribsikan tulisanku. Terlihatlah gambaran seorang Malik menghunuskan pedang. Apalagi klo tulisan dah nyingung ikhwan bermental anjing tak bertanggung jawab karena telah menggoda akhwat. Husshh,,, tuhkan bener kata beliau, aku suka ngamuk klo inget ini.
Setelah 3 bulan bergabung dengan komunitasnya, baru aku sadar, ternyata ini penulis yang aku bilang di atas. Weehhhh,,, kayaknya gak lawan aku nih. Siapa sich dia. Biar aku rajin tahajud, tilawah dan puasa, kayaknya gak bakal deh bias nyamain dia. Gak bisa Cuma modal BISMILLAH, Menikah!!! Seperti di buku2 yang aku baca.
Sehingga suatu malam, ketika aku sedang bersendu rayu dengan Kekasihku, Penguasa alam. Rabb-ku dan Rabb-mu (para pembaca). Aku minta jawaban dari-Nya, mengevaluasi rasaku, mempertanyakan apakah yang kurasakan adalah cinta, dll. Di tengah do’a ponsel ku bergetar, satu SMS dari Abahku (bokap) yang sedang khuruj 40 hari di Thailand. Lagi-lagi beliau mempertanyakan apakah aku sudah memiliki rasa yang kuat terhadap perempuan. Jujur setelah aku balas SMS itu dia meminta aku untuk menikahi sang gadis itu. Dan dengan mengucap hamdalah aku yakin ini jawaban Allah. Subhanallah, cintailah Allah, maka Allah mencintaimu.
Dan dengan tekad serta keyakinan karena Allah, aku mendatangi rumah beliau dengan orang tuaku, setelah meminta izin pada MR. aku tak percaya proposal, karena menjelang proposal turun, ikhwan sudah banyak yang menggoda akhwat. Aku bisa menjadi saksi, bukan hanya satu yang aku tangkap tapi dua, tiga bahkan lebih. Semoga Allah membuka hati para ikhwan ini, dan melindung para akhwat agar iffah-nya tak tergadaikan, dan tak lupa pula agar aku diberi kekuatan tuk istiqomah oleh Rabb semesta alam. Aamiin..
Ini kisah ketika ikut memeriahkan pernikahan salah seorang sahabatku dengan seorang muslimah yang tak diragukan lagi ke-muntijahan-nya. Sehari setelah acara Walimatul Ursy. Sang saudaraku ini sedikit cerita bahwa ada sebuah SMS dari seorang lelaki yang berencana untuk melamar istrinya dalam beberapa bulan ke depan.
Wogh, sedemikian darahku berdesir ingin tahu siapa lelaki yang mendapat julukan ikhwan itu. Ingin sekali aku menendang wajahnya seperti yang aku lakukan pada seorang teman – yg berjuluk ikhwan juga – kasus ada disini.
Beginilah para pecundang bertopeng celana congklang, mushaf ditangan, janggut bermeter-meter. Aku ingat kata MR-ku yang sedang doctoral di UKM Malaysia, lebih dahsyat dan berbahaya gaya ikhwan menggaet akhwat dari pada cowok ‘ammah, karena mereka menggunakan tausyiah2 dan hadits2, mereka lupa pada ayat ini;
Dan janganlah kamu Campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS.2:42)
Lain lagi ungkapan ustadz Rozak, ketika memberi taujih tentang menimalisir VMJ di LDK kampusku, dengan wajah merah, dia geram dengan ikhwan yang selalu mengirimin akhwat SMS Tausyiah. Siapa yang menjamin hati akhwat tak tergoda??? Siapa yang menjamin bahwa keimanan mereka tidak terganggu?? Sang ustadz dengan gamblang di depan majelis yang penuh dengan ikhwan dan akhwat, berseru “Akhwat hati2 jangan terperangkap dengan jaring tausyiah para ikhwan”.
Sungguh hati akhwat itu lembut, maka jangan ganggu mereka, biarkan mereka berdakwah dengan penuh keistiqomahan dengan hati dihiasi cinta kepada Rabb-nya! Menikahlah jangan menjadi pengecut, adakah kata lain yang lebih baik buat kalian para ikhwan pelaku demikian selain kata pengecut???
Akhwat, jangan sampai iffah kalian tergadaikan dengan harga Rp. 88 /SMS, bila engkau hendak bertanya tentang hadits/pemecahan masih banyak akhwat di sisi kalian, bila mereka tak tahu, maka masih ada MR kalian, bilapun mereka tak tahu masih ada asatidz2 kita.
Cuma teringet waktu nasehatin adik gadisku “Dek, hati2 cowok itu anjing mereka punya banyak cara menaklukkan kita”, so ikhwan kan cowok tuuuh??? Nah ikhwan yang melakukan hal demikian, maaf, aku samakan dengan statement diatas, apalagi sampai menggantung akhwat dan membuat mereka berdiri di dua persimpangan. Menunggu jodoh dari MR atau menanti kepastian dari IKHWAN PENGGODA nan Banci bin pengecut ini. Terus Murnikan Dakwah untuk-Nya!!!
Hak Cipta Dilindungi Allah SWT, Bila Ada Salah Kata Mohon Dimaafkan. Lagi Belajar sich ^_^ Diterima Cacian, Makian, Saran dan Kritik Email: abu.aifah1@gmail.com CP/Whatsapp : 0821-7816-9560