Tampilkan postingan dengan label KumCer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KumCer. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2009

Antara Ada dan Tiada

“Ayahanda, kenapalah nasib Ananda seperti ini, sungguh, ananda tidak kuat Ayahanda.” Hanif mencoba kuat, ketika mengadukan kondisinya kepada sang Ayahandanya.

“Ananda, mujahid bukan?” dari jauh terdengar tanya dari Ayahandanya. “Mujahid harus kuat sayang, dia akan siap menghadapi segala tantangan yang datang dari luuar maupun dari dalam dirinya.” Nasihat lembut yang justru semakin menderaskan air mata Hanif.

“Iya Ayahanda, Hanif ini mujahid, tapi mujahid itu manusia juga, Ayahanda!”

“Ingat lah sayang, Ananda bukan hanya mujahid, tapi seorang da’i, tidak ingatkah Allah berkata di dalam surat cinta-Nya. Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” Jawaban dari sang Ayahanda semakin mengiris dalam dada dan ulu hati Hanif. Kerinduan kepada Ayahandanya, kekecewaan kepada keluarga yang ada bersamanya saat ini semakin menderaskan air matanya.

“Tapi Ayahanda. Ananda sudah bosan rasanya menghibur diri. Mereka mengira tawa ini adalah tawa ikhlas, mereka tidak tau hati nanda selalu menangis, bilamana diri ini tak beriman ananda ingin mati saja.” Jawab Hanif dengan bibir yang semakin kelu.

“Istighfar sayang, adakah Umar pernah berucap demikian? Hiburlah dirimu! Ayahanda percaya, ananda bisa, karena dalam darah ananda ada darah Ayahanda.” Ujarnya…

“Janganlah sesekali berlepas dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Dia sayang pada Ananda, tanya pada diri ananda, terlalu banyak nikmat Allah untuk kita berlaku sedih.” Tambahnya.

Hanif terus menangis, apa yang ingin dia sampaikan sebenarnya tidaklah patut sang Ayahanda mengetahuinya. Dia sedang bingung, antara membela sang ibu atau sang ayah tirinya. Semakin lebamlah kantung matanya. Hanif sudah tak sanggup bicara lagi, perihnya mata semakin membuatnya tak bisa terlelap.

“Dengarlah sayang, ambillah pelajaran dari setiap permasalahan yang ada di depan mata, hikmahnya, jangan sampai hal buruk yang Ananda lihat terulang dalam hidupmu .”

“Ayahanda tahu masalah apa yang sedang ananda fikirkan. Ingat sayang! Allah cinta padamu… yakinkan dalam dirimu… kuatlah sayang, Ayahanda sayang ananda!” tambahnya

Hanif semakin seperti anak kecil, dia ingin sekali memeluk Ayahandanya, tapi apalah daya, mereka sudah berjauhan. Hanif hanya bisa berteriak, dia merasa kelemahan dalam dirinya semakin nyata. “

“Allah, berikan kekuatan kepadaku, karena hanya Engkau tempatku memohon.” Ujarnya sembari menatap langit malam, mushaf yang mulai lusuh itu kembali dia rengkuh dan bersenandung bersama-Nya.

Rabu, 05 Agustus 2009

Cerpen: Main Hati, Mau?

Main Hati, Mau?
By: Sulthan Fithrah*

Awan mendung menari diatas langit diiringi dengan dentuman suara petir menyambar sebagai tanda akan turunnya hujan pada pagi itu. Hanif, seorang aktivis yang dikenal paling ceria diantara aktivis yang lain tampak murung, pikirannya entah kemana, suasana mendung langit tergambar dari raut wajahnya.

Sudah beberapa hari ini dia tampak murung dan lesu, tanpa satu orangpun tahu apa yang sebenarnya dia rasakan, terasa sesak dadanya. Di rumahnya hanya sekedar mengurung diri dikamar tidak tahu ingin berbuat apa. Pikiran terbang entah kemana yang tanpa dia sadari air mata mulai menitik dari ujung kelopak matanya. Dia hanya terus membaca pesan singkat terakhir dari orang yang dia cintai.

“Asslmkm, akhi afwan jiddan ini SMS terakhir dari ana. 5 hari lagi ana ijab qobul, ustadzah sudah memberikan memberikan orang yang pantas untuk ana, cukup disini akh SMS ini, semoga hati kita tetap terjaga untuk tetap di jalan ini. Wass...”

SMS itu terus menerus ia baca, hingga tanpa sadar membuatnya menangis. Dia sangat mencintai wanita sholehah ini, hanya saja dia salah mengaplikasikannya. Dia hanya menjalin Hubungan tanpa status (HTS) pada wanita tersebut, bercanda ria melalui SMS, walau dia tahu bahwa itu salah dan belum waktunya.

Dia bingung hendak menyalahkan siapa, yang namanya wanita bila sudah merasa ada yang memberi perhatian, tentunya mereka akan mendapat sebuah kenyamana. Hanif memang tanpa sadar memberi perhatian lebih pada wanita ini, yang sama-sama berada dibawah satu payung organisasi kampus. Sehingga membuat wanita inipun nyaman bercanda ria dengannya. Melayani satu sama lain.

Minggu pagi adalah puncak tekanan didada, sesak sekali rasanya, ba’da shubuh dia kembali menantap mushafnya agar hatinya bisa sedikit tenang. Tetapi lembar demi lembaran mushaf yang dia buka hanya semakin membuatnya menangis, merintih pedih karena penyesalan didalam dada karena telah bermain hati.

***

Cuaca pagi dikota itu memang masih sejuk bila angin berhembus, cuaca gelap namun hujan tak kunjung turun, sudah satu minggu ini kota Bogor setiap pagi selalu dibalut awan mendung yang amat sangat. Tidak salah bila kota ini mendapat julukan Kota Hujan.

Diluar rumah dua orang sahabat kental Hanif di organisasi tersebut telah turun dari atas motor, mereka berencana akan pergi ke resepsi pernikahan salah satu saudari mereka.

“Assalamu’alaykum,,, anybody home” teriak salah satu temannya, yang memang terkenal paling ceria bawaannya.

Tetapi mereka langsung disambut oleh ibunya Hanif, yang kebetulan akan keluar belanja keperluan sehari-hari, Hanif masih dikamar sedangkan Bapaknya sedang berada di kandang ayam memberi makan ternaknya.

“Hanifnya ada Mi?” Tanya salah satu temannya yang baru datang. “Oohh,,, ada tuh dikamar, heran Ummi dari kemarin kayak anak perempuan ngurung diri di kamar.” Ujar ibunya.

Masuklah mereka kedalam rumah yang cukup sederhana ini, kehidupan keluarga Hanif memang sangat sederhana. Dari luar kamar mereka melihat saudaranya ini termenung berpangku tangan pada dagunya ditepi jendela.

“Doorr,, hayyoo ngelamuni apa nich bro?” kaget salah satu dari mereka. Abdhel memang dikenal orang paling nggak pernah mikir kalau becanda, tidak tahu temannya sedang sedih atau tidak, dikalangan aktivis kampus dia memang dikenal orang yang paling rame sendiri, prinsipnya tidak mau kebawa situasi.

“Weiittss,,, murung aja nich, jangan keliatan banget donk kalau lagi patah hati bro, Ukh Lela emang bukan jodoh ente,,, hehe?” ujar Abdhel dengan maksud bercanda, namun kalimat itu justru membuat Hanif tersiksa bathinnya, karena dia memang mencintai Ukh Lela, hanya saja dia tidak Gentle dan lebih memilih memberi perhatian belaka yang justru tak jelas juntrungannya selain merusak hati kedua belah pihak, Alhamdulillah sang wanita diselamatkan oleh Allah SWT.

“Ahh,,, ngaco’ ente, siapa yang lagi patah hati.” Ujar Hanif menutupi gejolak jiwa yang ada didalam dadanya.

“Becandaa akhii… lagian kok sembeb githu muka ente?” Ujar Abdhel

“Sudah-sudah, buruan donk akh, kita pergi ke acaranya Ukh Lela?” Ujar Fithrah temannya yang lain. “Penasaran ana pengen liat siapa ikhwan yang beruntung itu, ukh Lela kan manis, semangatnya subhanallah, nggak ada dech akhwat kampus kita yang bisa nanding kinerja dan loyalitas beliau terhadap dakwah kampus kita, ya nggak Dhel?” tambahnya

“Yooo…Yoyy.” Timpal kader dakwah kampus yang aneh satu ini

Lagi-lagi ucapan itu semakin membuat dada Hanif teriris, karena kenapa bukan dia yang ada disamping Nurlaila. Sosok yang tanpa sadar menyusup penuh kedalam jiwanya. Pujian dari bibir Fithrah semakin menanamkan penyesalan mendalam didalam dadanya.

Hanif antara bersedia dengan tidak untuk hadir di acara tersebut. Disatu sisi dia tidak ingin menyiksa bathinnya, dan disatu lain bisikkan agar dia jangan tampak lemah menghadapi masalah ini terus menggema, getar bibirnya semakin tampak, lagi-lagi penyesalan memberi perhatian lebih yang disambut baik oleh wanita tersebut membayangi hatinya, apalagi bila ingat canda-candaan SMS yang mereka lalui bersama. Rasa (Cinta) yang suci menjadi terkotori karena tidak ditempati pada tempat yang tepat – tali pernikahan – bukan malah sebaliknya memainkan hati sendiri.

“Yuklah,, ane mandi dulu ente-ente tunggu disini aja.” Ujar Hanif sembari menahan sesak di dadanya.

***

Setengah jam perjalanan dari Parung kota Bagor menuju Statiun Kereta Depok Baru kota Depok, Hanif masih saja termenung dengan tatapan kosong. Tentunya hal ini semakin membuat dua temannya heran, masalah apa yang sedang menimpa teman mereka yang satu itu.

“Akh, ente ini nape, kok dari tadi manyun kerjaannya, ada masalah? Cerite nape ke kite-kite!” Ujar Abdhel menyelidik. “Jangan-jangan emang lagi patah hati, hayyooo loo?” lagi-lagi maksud candaan Abdhel ini mengefek pada jiwa Hanif.

“Jujur akh, ane memang sedang mengalami hal seperti itu, ane menyesal sekali. Ane tidak gentle!”

”Heii,,,, hei,,, kemana nich arah pembicaraan kalian?” sela Fithrah langsung, karena menatap mata Hanif yang mulai berlinang air mata.

“Monokotohoy... ane aja lagi coba menangkap maksud dari akh Hanif ini!” ujar Abdhel berusaha mencairkan suasana.

“Ane sedang sedih akhi, tapi bukan patah hati, ana sebenarnya ada rasa dengan Ukh Lela, tapi niat menyucikan rasa suci ini terkendala oleh ma’isyah yang belum matang, dan satu lagi, terkendala etika jama’ah kita, dan lagi pula ana fikir apakah Ukh Lela bersedia menerima segala kekurangan yang ana miliki” Ujar Hanif panjang lebar tanpa menghiraukan penumpang yang lain.

Hanif tertahan lidahnya untuk mengatakan bahwa wanita yang dia maksud juga memiliki hati pada dia, karena baginya tak ada jalan lain untuk membuktikan cintanya pada wanita tersebut selain menjaga harga diri sang bidadari hati.

“Sudahlah ana yang salah, karena ana yang memulai mengganggu hati ukh Lela, semoga Allah mengampuni ana, biarkan ana nikmati hukuman ini” Ujar Hanif kembali menahan sesak di dadanya.

Minggu, 28 Juni 2009

No Woman No Cry

Kata Papa, kebahagiaan emang cuma beda tipis sama kesedihan. Sedetik lalu kita kita bahagia, sedetik kemudian kita bisa langsung sedih lagi. Kata Papa lagi, kalo kita berani jatuh cinta, kita harus berani patah hati. Kalo kita berharap banyak sama orang, kita harus siap untuk kecewa. Karena orang yang paling kita sayang punya peluang untuk menyakiti kita.

Dan kata Om Kahlil Gibran, jika cinta memanggilmu, ikutilah. Meski jalan yang kau tempuh licin dan terjal, dan bila sayapnya merangkulmu, pasrahlah. Meski pedang yang tersembunyi diujung sayapnya melukaimu...

Dodo lagi bingung nich, dia merasa lagi jatuh cinta, tapi dia masih mempertanyakan cintanya mau dibawa kemana, dia nggak mau kebablasan layaknya seperti anak muda yang lain. Jadi cowok pengecut cuma berani nenteng anak gadis orang hanya untuk bersenang-senang semata. Kasian para cewek, tapi ironisnya mereka malah seneng cuma sekedar dijadikan objek kenikmatan sesaat para cowok, fiuuhh.

“Hayyooo,,, lagi baca apaan tuh?” tanya si Ipeh ke adiknya yang sudah mulai beranjak dewasa. “Kayaknya adik Mpok lagi ngepink nich?, kok bolak-balik baca buku Kahlil Gibran, awas ntar tersesat lho.” Kembali Ipeh menggoda adiknya.

“Ahh,,, bawel banget sih, udah sono belajar masak, dah gadis ini!” balas Dodo sewot sambil ngeledek Mpoknya yang cuma bisa masak aer minum. Hihi...


Mereka sebenernya sama-sama aktivis Rohis disekolah, kalem bukan maen kalo disekolah, tapi kalau dirumah gokil mereka pada kumat, Ipeh kelas 3 SMU sedang Dodo masih kelas 1 SMU. Makanya Dodo bingung, dia lagi suka sama akhwat kelas 2 yang menurutnya type dia banget. Tapi kata ustadz pacaran itukan haram, mau nikah masih kelas 1 SMU, duh jalan keluar harus banyak-banyak puasa nich, bathinnya.

“Udah dech, Mpok tau, beneran lagi ngepink kan?” udah jangan baca buku ini (Kahlil Gibran), Mending baca ini nich, Rahasia Ketajaman Mata Hati karyanya Imam Al Ghozali.” Ujar Ipeh sambil menyerahkan buku tersebut ke adiknya.

Ipeh denger selentingan kabar dari temen-temen Rohis adiknya, kalo Dodo lagi berjuang ngejaga hatinya biar nggak karatan or ngepink. Dalam pikirannya kasian adiknya, memiliki rasa yang belum waktunya.

“Oiya dek, Mpok punya teka-teki nich, jawab ya!”
“Ahh, jangan yang basi lagi ya”
“Okey, gini ada 5 bebek di kali 2, jadi berapa?”
“Ya 10 donk, basih ahhh”
“Eittss, Salah dunk-dunk, tetep jadi 5, didarat 3 di kali 2,, hihi.”
“Nggak mudeng aye mpok, ok, aye lagi yak?” tawar si Dodo. “Tukang apa yang selalu menderita?”
“Hmmm,,, tukang sapu!” Jawab Ipeh PeDe
“Salah, jawabannya tukang pejual perabot rumah tangga.” Jawab si Dodo serius.
“Kok bisa?” Tanya Ipeh. “Karen kesannya mereka itu diusir dari rumah oleh istri tercinta,, hehehe..” Jawab Dodo nyengir garing.
“Hihih...Ok, Mpok lagi ye? Nich, gimane carenye ngilangin bauk pete dimulut?” Tanya Ipeh ke adiknya.
“Sikat gigi donk!” Tebak si Dodo ngasal.
“Weee, salaaahh,,,” Ujar si Ipeh. “Trus Apa donk?” Tanya Dodo maksa.
“Kalau mau ngilangin bauk pete dimulut, ya Makan Jengkol!,, huahahaha.” Jawab si Ipeh sambil ngakak lebar, nggak pakek jaim.
“Idiihh, akhwat ngakaknya lebar banget sih,,, geli banget ngeliatnya, gak kayak Mpok aye yang disekolah, kalem plus jaim.” Ujar Dodo sambil ngetawain kakaknya yang tampil lepas alias wujud aslinya keluar.

Setelah bercanda abis dengan Mpoknya, Dodo baru sadar, ngapain dia gegabah berfikir kalo lagi jatuh cinta sama orang lain. Padahal dia punya kakak dan teman-teman Rohis yang saling mencintai satu sama lain, saling ngejaga. Dia jadi ingat judul lagunya Bob Marley yang berjudul No Woman No Cry, dia yang nggak ngaji ajha nggak begitu mikirin cewek, lah kenapa gue kudu mikirin cewek sampe ganggu aktivitas gue. Ahh dodol.

Begitulah Dodo menyadarkan dirinya sendiri, dia nggak mau menambah jumlah cowok pecundang lagi, ngayal nggak jelas hanya karena ketemu yang type dia banget. Gak usah dipikir, karena pikirnya ntar kalo jodoh, Insya Allah ketemu. Cihuyyy.... (Mulai Parno’).

Senin, 15 Juni 2009

[Cerpen] Akhwat Unik

Jumat pagi itu rumah Dodo begitu ramai disesaki oleh para ibu-ibu sekampung, karena menurut rencana Si Ipeh kakaknya akan melaksanakan Akad Nikah, setelah ustadzahnya memperkenalkan seorang pria yang sangat hanif. Dodo keliling rumah mencari sang kakaknya tapi gak nemu-nemu.

“Haduuuhh, jatuh dimane sich ni orang, perasaan tadi gue kantongin dech! Mpoookk... oi Mpok, dimane sich ni orang” teriak si Dodo sambil ngeliat kedalam kantongnya serta mengangakat barang-barang ada di sekitarnya, dasar ni anak gokilnya nggak ketulungan, nyari recehan ato nyari orang.

Dodo belum juga menyerah, akhirnya dia ketengah ibu-ibu.

“Ncing-Ncing ade nyang liat Mpok aye kagak nich, dicariin dari tadi susye amat yak? Noh, temen-temennye pade dateng, aye rada tengsin ngadepin cewek berjilbab gede mah” ujar si Dodo ke ibu-ibu yang sedang memasak persiapan akad nikah.

“Laah, elu nyang punye kakak, nape kite-kite yang repot yak?.” Jawab salah satu ibu yang anaknya jadi gebetan abadi si Dodo, Bu Ijah.

“hidiih ni orang tua, klo kagak mikir gue naksir anaknye udah gue ledekin lu” bathin si Dodo. Akhirnya si Dodo pergi kesumur karena putus Asa, tapi dia bukan mau bunuh diri, tapi nyari bantuan yang laen, Emaknya.

“Nyak, Mpok mane ye? Nooh didepan ade yang nyariin.”

“Sape yang nyariin Mpok lu?”

“Tuuh, Malaikat Maut.” Jawab Dodo sekenanya, ni anak udah beda tipis ama Budi Anduk tapi kalau ngomong asal ngecablak.

“Huss, lu ngomong ape ngeden, Mpok sendiri digituin, amit-amit jabang bayi.” Jawab Emaknye sewot sambil ngusel-ngusel perut.

“Gian dicariin dari tadi juga, udah mau jadi bini orang masih aje petakilan, dasar akhwat gaje.” Gerutu si Dodo nggak kalah sewotnya.

“Mpok lu kali aje cari ketenangan, biar nanti rada fresh pas ijab qabul.” Jawab emaknya.

“Ntu didepan temen-temenya pade dateng, bete’ ah ngeliat mereka, diajak ngomong malah nunduk, trus aye nunduk yang diajak ngomong malah ngeliatin aye, kan jadi tengsin.” Jawab si Dodo yang rada manyun.

“Lah, elu aje yang mati ke-GR-an” ledek emaknya

“Idiih, Enyak, mane ade orang yang mati ke-GR-an, yang ada tuh mati kecelakaan, keracunan dan keenakan, noh yang sering mati keenakan para bos-bos kayu.. hihi.” Jawab si Dodo rada gila, si Emak mah maklumin aja sifat anaknya yang satu itu. Soalnya langka punya anak laki yang nakal tapi care ama keluarga. Bukti si Dodo care ama keluarga, pas bapaknya sibuk ngitung gajian dia bantuin ngitungin ntu duit. Hebatkan anak jama sekarang.

Karena puyeng Dodo nyari si kakak nggak juga nongol, Dodo pergi ketoko mau beli cemilan, dijalan dia ketemu si Eki anaknya Bu Ijah yang sedang masak dirumahnya.

“Hei Do, mau kemane?.” Tanya Eki penuh ceria.

“Mau ke warung Ki.” Jawab Dodo rada tersipun, karena sang pujaan lewat didepan mata dan menegur dengan penuh kelembutan.

“Mau beli apa?”

“Beli Mobil, untuk kita jalan-jalan”

“Iiichh, norak aahh.” Jawab si Eki langsung ngelonyor ninggalin Dodo yang kambuh gilanya.

“Eeehh, Eki tunggu, gue ada nebakin nich buat lo”

“Apaan..?

“Tivi apa yang bisa jatuh cinta”

“TV yang nayangin acara reality show ?.”

“Salah, Tivi yang bisa jatuh cinta itu adalah Tivikir-vikir aku dech yang jatuh cinta ama lo.” Jawab si Dodo

“Ahh, garing tau’, dah gue mau nyari mak gue dulu” sewot si Eki. “ehh tapi gue juga punya tebakan ni buat lo, Mobil Apa yang jelek?” Tanya Eki balik.

“Mobilang gue kan, Asem lu! Jawab si Dodo.

“Tuh tau,,, hihi” Jawab si Eki, trus ngacir.

Dengan langkah seribu Eki meluncur kerumah Dodo buat cari emaknya. Dan Dodo meneruskan langkah menuju warung Mpok Ijun. Dari kejauhan dia ngeliat sesosok perempuan yang dia merasa kenal banget, makin deket ntu wajah bener-bener tidak asing lagi, bahkan ngebosenin. Ternyata sang perempuan adalah kakaknya sendiri. Lagi bengong ngeliatin barang jualan Mpok Ijun. Sambil mendeb-mendeb Dodo mendekati kakaknya.

“Doorr,, hayyoo kemane aje sih mpok, aye nyariin dari tadi juga, nggak taunye dimari. noohh, temen-temennye pade nunggu dari tadi.” Ujar Dodo sambil ngaggetin kakaknya, si Ipeh yang kaget cuma bisa ngurut dada atas ulah adiknya yang kayaknya permen nano-nano, Manis Asem Asin.

“Iye, suruh tunggu aja, mpok lagi sibuk nich”

“Sibuk apaan, clingak-clinguk kagak jelas githu”

“Mpok lu lagi ngapalin nama-nama sayur dan bumbu, die pan mau nikah. Biar nggak bingun kalo mau masak” Ujar Mpok Ijun yang dari tadi emang nggak betah ngeliatin si Ipeh clingak-clinguk.

“Husss,, mpok jangan gede-gede donk, aye pan malu!”

“huahaha,,, ude mau nikah kok nggak bisa masak?” ledek Dodo ke kakaknya

“Diem lu, bawel!”

Dengan tanpa rasa malu, demi memberi kebahagiaan kepada calon suami, Ipeh terus nanya-nanya sama mpok Ijun. Mpok Ijun Cuma bisa sabar saja, karena dia ngerasa apa yang dirasakan tetangganya yang unik itu.

“Mangkenye, berdakwah sich berdakwah, tapi sering-sering donk mampir kedapur, plototin kalau Nyak lu lagi masak.” Ujar Mpok Ijun

“Iye, aye nyesel juga mpok, tapi pan Insya Allah aye bisa kok masak.” Ujar si Ipeh penuh penyesalan dengan muka memelas. Hihi

“Trus mpok, beda Kunyit, Kencur, Jahe, dan Lengkuas gimana ya?”

“Lengkuas ama Jahe gampang bedainnye, kalo lengkuas itu keras daging umbinya, kalau jahe kagak. Rata-rata lengkuas biasanya buat sayur asem, gule nangka atau apalah, die Cuma di tumbuk aje kagak bisa dialusin, coz serabutnye banyak. Kalo jahe bagusnya dihalusi. Biasanya kalo lu mau bikin nasi uduk, biar wangi nasinye, lu giling halus jahe, bawang merah, trus bawang putih jangan lupa campur garem sedikit, trus haduk dech bareng santen kelapa jangan lupa daun pandan dan daun serainya.” Ujar Mpok Ijun panjang lebar.

“Trus kalo kunyit ama kencur apa bedanye trus buat masak apa ajha ” tanya si Ipeh lagi, karena dia tau itu bumbu pokok dalam masak-memasak, itupun taunya dari iniasiatif nanya sama mbah Google. Unik bener akhwat yang satu ini nggak beda jauh uniknya dengan adiknya si Dodo.

“Gini aje, tar kalau lu udah kawin, trus mau masak apeee ajee., lu datang aje dimari, cukup bilang beli bumbu campur. Nah didalam satu bungkus bumbu campur itu semua bumbu pokok ada. Nih mpok liatin ye. Nah kalau kunyit itu biasanya untuk pewarna, kalo lu mau bikin gule kambing atau gule ape aje, kunyit jangan ampe ketinggalan, trus kalo kencur,,, hmm kalo mpok sich masak jarang pakek kencur, kecuali kalau lagi bikin pecel.” Lagi-lagi mpok Ijun kudu jelasin panjang lebar ke Ipeh.

“Ooo... githu ya mpok.” Jawab si Ipeh

Dodo yang dari tadi ngeliatin Mpok Ijun jadi ngenes, kok kakaknya ampe segitunya nggak ngerti bumbu masak, sampe-sampe yang punya warung kudu ngelayanin plus-plus. Si Dodo jadi mikir unik bener cewek jaman sekarang, jangankan masak, sama bumbu aja kagak kenal.

“Nah, gimana udah ngerti belum Peh?” tanya Mpok Ijun.

“Kagak..!” Jawab Ipeh polos.

Gubragghh,, Mpok Ijun sudah nyerah sambil ngerlipin mata ke Dodo, seakan memberi kode “Kasian bener Mpok Lu”.

Kamis, 28 Mei 2009

Don’t Judge The Book From The Cover

Sebuah Cerpen KONTROVERSI


Malam itu aku kelabakan, layaknya pembalap, aku tikung semua kendaraan yang ada dihadapanku. Karena hari senin aku harus presentasi, buku yang aku Photo copy dipinjam oleh seorang akhwat teman sekelasku. Hingga tak ada cara lain selain harus kerumahnya.

Saat memasuki lorong daerag tempat dia ngekos, aku melihat dia sedang berdiri diteras bersama seorang cowok, yang setelah aku masuk ke halaman bedeng itu ternyata aku mengenalnya. Pada saat itu aku biasa saja. Tapi dia yang melihatku langsung berlari bersama si Akhwat kedalam rumah itu.

“ What happen ayak naon tuh kakak?” bathinku
“ Assalamu’alaykum.” Sedikit pelan suaraku, karena pintu sedang terbuka.
“Wa’alaykumsalam.” Jawab temanku yang kami sama-sama baru di Tarbiyah. “Ada Apa Fan” tanyanya kepadaku
“Aku mau ngambil buku photo copy aku tadi!” bahasa kami masih seperti biasanya, tidak pakai ane-ente seperti teman-teman di Tarbiyah yang lain. “Mana Akhi Toni tadi” Tanyaku pada Meri. Namun dia berusaha mengelak dan tidak pura-pura tidak mengerti, hal itu membuat aku curiga. Dari pintu rumahnya, aku teriak memanggil Akh Toni. Namun dia tak kunjung keluar.
“Jangan bohong, aku liat kok tadi kamu berdua akrab nian di teras.” Ujarku. Dengan berbagai nasihat aku berikan. Karena setelah di Tarbiyah aku benar-benar enggan masuk kerumah temanku yang perempuan bila mereka tinggal dikost-an sendiri. Bahkan yang memiliki rumah sendiripun aku selalu serba salah. Karena aku takut fitnah. Mungkin aku tidak berbuat apa-apa, tapi orang yang melihat bisa saja punya penilaian yang beragam. Akhirnya dia mengakui kalau Akh Toni ada didalam rumahnya.
“Woi, Akh Toni, keluarlah, ngapain didalam tuh? Rumah akhwat nich?” teriakku yang entah kenapa rasa respek itu hilang seketika.
“Huss, sudahlah, diaa kesini karena ada temen sekamar aku yang sekelas dengan dia. Kayak kita ini lah.” Jawabnya yang membuat curigaku sedikit reda.

Aku terus ber-husnusdzhon mudah-mudahan benar apa yang dikatakan temanku itu. Hanya saja bila benar seperti itu kenapa dia harus sembunyi dengan cara masuk kedalam rumah temanku itu. Lalu akupun pulang dengan jutaan dzhon-dzhon yang berkeliaran di dada.


***

Sore Minggu aku mampir ke gedung sekretariatan organisasi kami di kampus. Ketika disana aku bertemu beberapa teman-temanku tak ketinggalan Akh Toni. Kulihat dia sedang serius melihat temanku yang bermain Game di komputer sekre.

“ Wey, antum semalem kenapa liat ane langsung lari kedalam rumah Ukhti Meri? Langsung saja sehabis bersalaman aku menegur dia. Tapi jawaban yang aku dapat sungguh tidak mengenakkan.
“Ane tuh takutnya nanti antum su’udzhon sama ane” jawabnya dihadapan teman-teman yang lain.
“Antum tuh yang su’udzhon sama ane, ane sama sekali nggak ada su’udzhon sama antum malam tuh. Cuma heran ajha, kenapa antum malah ngumpet setelah melihat ane?” Jawabku langsung.
“Padahal sebenarnya kalau memang antum nggak ada apa-apa disana, tak perlu lah lari, bahkan masuk ke rumah akhwat, ingat akh walau Tarbiyah dia belum matang bukan berarti kita seenaknya saja, itu sama aja dengan standard ganda, dengan akhwat yang sudah matang tarbiyah kita berhijab, tapi dengan yang baru kita bebas tanpa batas. Mikir nggak ente kalau dia bisa dapat fitnah dari tetangga-tetangganya? Itu makanya ane lebih baik berdiri diluar teras.” Tambah ku lagi.
“antum sendiri ngapain malam Minggu kerumah Ukh Meri?” Tanyanya padaku dengan nada lumayan tendensius.

Mendengar pertanyaannya, seakan-akan dia ingin membawa aku pada lingkaran fitnah juga, dan hal tersebut malah membuatku makin tidak bisa respek lagi kepadanya. Padahal dulu rasa respek itu begitu tinggi, sewaktu pertama kali aku mengikuti kegiatan Rohis kampus.

“Seperti yang antum liat, ane ngambil buku yang dia pinjem untuk di Photo Copy, masalah kuliah akh, dan itu sangat urgen, karena senin ane harus presentasi, dan bahannya ada di buku itu.” Jawabku
“ Nah, samalah dengan ane, ane juga ada keperluan kuliah ketempat dia, sekamarnya kan teman sekelas ane.” Alasan dia padaku.
“ Ya sudahlah akh, ana Cuma mengharap antum jangan seperti itu lagi, ingatlah mereka itu bukan muhrim kita, kalaupun antum ada perlu cukup diluar pintu, bukan malah masuk kerumahnya, ikhwah yang lain kalau melihat ulah antum pasti heran juga “. Jawabku pula, dan kemudia meninggalkan dia yang masih didepan monitor komputer.

Setelah beberapa jam di sekretariat, aku pun pulang kerumah tepat setelah menyelesaikan sholat maghrib bersama teman-teman yang lain. Sebenarnya benakku masih berisi tentang kejadian tertangkap basahnya temanku sesama aktivis di kampus, walau berusaha untuk berhusnusdzhon.

***

Senin pagi hujan benar-benar lebat dari jam empat shubuh, langit tampak begitu gelap, halilintar saling bersaut-sautan. Deraian air hujan membasahi tanah Jambi yang tiga hari lalu didera kekeringan, panas yang hingga menembus ubun-ubun kepala.

Dengan berlari kecil, aku menuju persimpangan jalan dari arah rumahku menanti angkutan umum yang biasa mengantarku hingga ke kampus. Selama dalam perjalanan bibir ku terus komat-kamit berharap dosen jam pertama belum masuk kelas.

“ Fan, u dmn? Sklian SMS Mister ya masuk nggak hri nee!” Satu SMS masuk ke HandPhone ku yang sedikit membuat aku lega karena dosen yang masuk jam pertama belum datang, mungkin tempat tinggalnya masih hujan lebat.

Turun dari angkutan umum, aku langsung menuju gedung perkuliahan, hari itu suasana sangat mendung.

“ Ukh, pinjem HandPhone mu sebentar, aku nggak ada pulsa nich mau SMS dosen.” Pintaku agak sedikit kaku, karena nggak biasanya aku memanggil dia dengan sebutan Ukhty.

Langsung saja dia berikan HandPhone itu kepadaku dengan terburu-buru, karena dia akan pergi ke kantin bersama teman yang lain.

“Sekalian titip, oiya jangan buka SMS-nya ya, awas lho!” Begitu pesan dia ketika memberikan HandPhone tersebut padaku.
“Siipp lah, takut banget sich, tenang ajha ntar aku baca semua SMS mu.” Jawab ku sambil nyengir nggak jelas.

Duduk dibawah pohon Jati di samping gedung kelas, dengan menempelkan Hp daguku. Aku memikirkan kata-kata yang pas untuk mengirim SMS kepada dosenku tersebut. Ketika hendak memulai menulis, aku dikagetkan dengan bunyi HandPhone yang berada digenggamanku, karena pada saat itu aku mikirnya sambil melamun.

Tombol HandPhone terkunci, aku bingung hendak membukanya, sembarang pencet tombol namun tak kunjung terbuka. Akhirnya kupanggil temanku yang sama-sama memiliki HandPhone sejenis dengan temanku yang akhwat tadi.

“Sudah nich, ada SMS tuh masuk, dasar kampungan lo Fan!” Ledek si Dani yang satu angkatan namun kami beda kelas.
“Danke bro!” Ucapku disertai acungan jempol kepadanya.

Bukan sampai disitu, akupun bingung untuk masuk ke Menu pilihan dari HANDPHONE tersebut, akhirnya sembarang pencet, malah terbuka SMS yang baru masuk tadi. Isengku kumat, aku baca isi SMS tersebut. Semula aku sambil tersenyum saja membaca SMS yang bagiku sangat norak tersebut, apalagi nama dari pengirim diberi nama “~My~Husband~”.

“ afwan dech, jgn patah semangat gtu lah, adx hrs semangat ya,. kk syang adx”

Awalnya aku biasa saja menanggapi SMS tersebut. Bathinku Cuma bilang, maklum lah kita masih sama-sama baru di Tarbiyah, so punya pacar karena kita belum faham. Toh aku sendiri waktu semester tiga itu masih suka muncul-muncul virus merah jambu. Namun akhirnya setelah beberapa kali mengikuti Dauroh apalagi kita pembahasan sudah masuk pada materi Syahadatain membuat aku keringat dingin serta tidak henti-hentinya beristighfar, karena kusadar ternyata selama ini aku belum bersyahadat dengan benar.

Setelah kukirim SMS kepada dosenku tersebut, isengku kembali kumat. Aku buka SMS itu lagi, karena aku begitu penasaran dengan tema yang mereka bicarakan. Setelah lima SMS terbaca, aku begitu heran, karena bahasa SMS itu layaknya bahasa SMS kakak-kakak aktivis dakwah yang lain.

Akhirnya, aku buka HandPhone ku, lalu aku check nomor tersebut, dan muncullah satu nama yang membuat aku bak disambar petir dipagi yang mendung itu. Ternyata Akh Toni yang pada malam Minggu itu tertangkap basah olehku bertandang kerumah teman sekelasku Ukhty Meri yang masih sangat awam terhadap manhaj Tarbiyah. Sungguh, Don’t Judge th Book from the Cover, hati orang siapa yang tahu.
Fin

Selasa, 31 Maret 2009

Pengen Nikah

“ Mi, umur Amad nich sudah 24 tahun lho !”
“ Terus ngapo… ?”
“ Kato Abah amah lah pantas buat nikah.”
“ Heuleuh, bapakmu didenger.”
“ Tapi kalo Amad dewek yang pengen nikah gimana ?”
“ Laah, gatal kau yo, masih dibawah ketiak emak, lah nak kawin ?”
“ Hehehe… dari pada Amad pacaran, trus sering berduaan, trus ada setan lewat, eh kelepasan dech.”
“ masak setan ganggu setan ?”
“ Maksyuuddd nya ?
“ Yo dak papolah klo kau nak Nikah, tapi ada syaratnyo. Beli beras sekarung dulu !”
“ Haaahh… Cuma itu ? Yo lah sebentar ya ummi sayang, Amad nak ketoko wak Jupri dulu, nak beli beras sekarung.”
“ Woii, gatal nian anak aku nich, bawak dulu cewek kau tuh kesini, kenalin ke Ummi, biak Ummi permak.”
“ Emang motor dipermak ?. Cewek tu ado lah yang Allah siapin buat Amad, Cuma tinggal Amad be buat proposal,, hehe…

$&^#*&^$*&^@*&$^&$^#&*

Pensi I'm in Love

[Sulthan Malik]

Hari itu Arya bangun pagi-pagi banget, karena di sekolah akan diadakan Pentas Seni Perpisahan siswa kelas 3 di SMP Arjuna Sakti, Arya tidak sabar ingin melihat penampilan cewek pujaannya tampil di atas catwalk or panggung dalam kategori fashion Show en teater.

Arya sendiri akan tampil dalam kelas paduan suara, hari itu dia tampil sangat necis, celana hitam, baju putih rompi batik coklat, dipadu dengan orangnya yang hitaaaaam….. manis, pas banget. Sepanjang jalan dari lorong rumahnya Arya berjalan dengan penuh percaya diri. Dada terbusung, mata lurus menatap kedepan, sehingga ada yang memanggilpun Arya sudah tidak dengar lagi. Ibarat kata, anjing menggonggong kafilah berlari, yaaa.. selain menggonggong itu anjing juga ikut ngejar. Hehe garink…
Arya bengong percis sapi ompong di depan lorong dari arah rumahnya, dia menunggu sesuatu yang senantiasa menjemputnya setiap akan berangkat ke sekolah. Sangat setia menjemput Arya tepat waktu. Saking mewahnya hidup Arya, sopir yang menjemput dia selalu berganti-ganti. Akhirnya jemputan Arya pun mendekat.

“ Naik mas “ seru si sopir.

“ Kawat kan pak ?” Tanya si Arya, “ maaf mas ini bukan Kawat, tapi angkot “ jawab si sopir becanda.

“ idiih si bapak, maksudnya jurusan Simpang Kawat bukan ?,,, hehehe “ canda si Arya. “ Iya boy, sudah naik aja “ celetuk si kernet yang sok gaul, padahal udah tua juga githu.

Akhirnya si Arya naik juga dengan terpaksa ke dalam angkot, dia harus terima kenyataan kalo angkot yang kali ini hadir di hadapannya adalah angkot odong-odong, boleh dibilang angkot itu seperti orang yang hidup segan mati tak mau alias dibuang sayang, dijual ? gak ada yang mau. hihi.

Di Jambi itu ya, kalo menurut gue, sebuah kota yang memiliki angkot bagus-bagus dibanding kota besar yang lain, kalo anak muda Kota Jambi nyebutnya dengan sebutan angkot rekor. Kalo sudah masuk ke dalam angkot rekor itu, anda angkat dijamu oleh kernet yang bergaya ala harajuku, sampe dalem anda akan merasa seperti di dalam discotic. Musik-musik aliran DJ Punk akan menghiasi perjalanan anda. Anda senang atau tidak yang jelas sopir tidak mau tau.

Tapi, kasian si Arya, saking semangat pengen ketemu his honey, his boney, his sweety, dia rela naik angkot odong-odong. Pikirnya, yang penting bisa cepet ngeliat Farah. Siapa tuh Farah ? siapa lagi kalo bukan gadis pujaannya. Hingga beberapa menit Arya hanya bisa menahan nafas, karena bau amis angkot bekas ngangkut penumpang ibu-ibu penjual sayur dari pasar Angso Duo. Jadi sisa-sisa bau ikan masih terasa dimobil.

Gak matching banget, sudah puoolll bergaya, ehhh dapat angkot yang super duper ancur, dibanding wajah si Arya mungkin sama ancurnya dengan tu angkot. Hihi.. tapi sebenernya Arya ini lumayan manis lho, kalo liat bintang Bolywood si Shah Rukh Khan, coba dech bandingkan kedua photo orang tersebut, maka akan terlihat antara Shah Rukh Khan dengan si Arya pasti ibarat pinang dibelah kampak, yang satu bagus yang satu ancur. Hihihi.

“ eehh dek, sebenernya mau turun dimana sich ?” Tanya si sopir

“ Kawat, Pak !” jawab Arya polos

“ Sudah kelewatan jauuhh, kaleee’ “ jawab si Sopir sok gaul.

“ loh, bapak kok gak bilang-bilang sich, kalo mau ngajak saya jalan-jalan ?” Tanya si Arya berlagak pilon.

“ Siapa juga yang mau ngajak kamiu jalan-jalan, dari tadi bapak liatin kamu bengong sambil senyum-senyum sendiri, kalo bukan karena pakaian kamu yang begitu rapih sudah bapak bawa ni mobil ke Rumah Sakit Jiwa “ sewot si Sopir

“ Loh, kenapa mobil dibawa rumah sakit jiwa pak, dibawa kebengkel ajha, udah parah ini juga “ ledek si Arya bego.

“ Weyy, ngeledek ni anak, bapak mau ngantar kamu ke Rumah Sakit Jiwa tauk, dari tadi senyum-senyum sendiri “.

Dasar si Arya, ni anak udah wajah pas-pasan, bocornya nggak ketulungan. Di dalam angkot matanya melek, tapi pikirannya sudah pengen banget bertemu dengan si Farah sang bidadari dan berkhayal ke mana-mana. Pantes di kira gila sama si Sopir. Jangan-jangan die lagi berkhayal yang jorok-jorok lagi ?, eh becanda, Arya itu anaknya baik hati, baik budi, baik Yanto maupun dia sama-sama baik. Apaan coba ?.

Akhirnya dengan hati yang ikhlas Arya pun ikut raon angkot yang sudah dimakan usia itu. Kapan lagi gue bisa jalan-jalan dalam pikiran si Arya, masih pagi ini juga.

***

Di rumah Farah terdengar gaduhan, mesin mobil yang lagi dipanasin, Lagu batak Melayu Deli bersenandung, dan suara Farah yang seksi teriak-teriak nyariin kaos kakinya yang ilang satu. Belum lagi stocking nya yang entah kemana.

“ Maaa……. Kaos kaki Farah satu lagi mana ?” teriak si Farah ke Mamanya

“ Lohh ? tadi dia nyariin kamu juga tuuh !” ledek Mamanya
“ Iiicchh Mama, orang serius juga, malah diledekin.” Jawab Farah jutek.

“ Coba cari baek-baek, kali ajha dibawa tikus, hehe “ ledek Mamanya lagi.

“ Iiicchh,,, Mama ngeselin.” Rajuk si Farah.

Akhirnya Farah pun bangkit dari keterpurukannya, halaaahh. Dia berinisiatif keliling gudang rumahnya, tempat rak sepatu tempat biasa dia tarok sepatunya, ya iyyaa lah, emang di mana lagi?. Farah diem-diem percaya juga sama perkataan Mamanya, jangan-jangan itu kaos kaki beneran dibawa ama tikus. Karena gambar kaos kakinya Minnie Mouse, Farah takut nanti Micky Mouse datang menjemput. Hihi.

Farah kaget bukan kelapang eehh kepalang, ternyata itu kaos kaki emang sedang dimainin ama si Micky hewan peliharaannya yang lincah seperti si Farah. Tapi ini bukan Micky yang ada di pilem kartun Disney milik orang-orang zionis yahudi. Tapi Micky, si kucing peliharaan si Farah.

“ Faraahh,,, buruan sudah siang nich, Papa mau berangkaaatt.” Teriak papanya.

“ Iyaa, bentaaarrr,,, ni Farah lagi rebutan kaos kaki ama si Micky, dia telah mempermainkan harga diri Farah sebagai makhluk Tuhan paling cantik.” Jawab si Farah ngasal.

“ Macem-macem aja, punya anak cuma satu macem, tapi kelakuaannya macem-macem, ini pasti gara-gara Mamanya yang sering masakin tempe bacem.” Ledek papanya.

“ Iiicchh, kok papa nyalahin Mama sich, Mama sering masak tempe bacem kan karena punya suami yang asem seperti papa, awas ya, kurang asem!.” Si Mama jadi cerewet

“ Idiiihh, jangan pakek ngancem donk mbok Inem. “ ledek si Papa lagi.

“ Awas nich, beneran Mama tampol pakek botol balsem.” Ancam si Mama.

“ Sudah… sudah, sama-sama Asem dilarang saling mendahului,,, hihi.” Ujar si Farah mesem , sambil memasang kaos kakinya yang sudah sedikit bolong bagian jempol kiri. Si Farah jengkel, kalo bukan karena kucing kesayangan sudah tak jadiin daging buat sayur asem. Hiih, seremm!!!.

***

Di depan SMP Arjuna Sakti ada pemandangan yang cukup kontras, yaitu bertemunya dua mobil yang menunjukkan perbedaan kasta di antara kedua pemiliknya. Yang satu ber-plat hitam yang satu ber-plat kuning.

Dari mobil ber-plat hitam turun gadis cantik nan bohai, tubuh semampai, mirip cover girl di tabloid Hai. Sementara itu dari mobil ber-plat kuning turun seorang cowok dengan gayanya yang lebayy. Si gadis melempar senyum kepada si cowok yang baru saja turun dari angkot, dan begitu pula si cowok dengan sok manisnya melempar balik senyum penuh arti kepada si gadis. Si gadis pun kembali melempar senyum kepada si cowok dengan penuh arti yang sama. Akhirnya waktu mereka habiskan dengan saling melempar senyum. Dasar gak jelas !.

Si gadis dengan anggunnya memasuki gerbang sekolah, sehingga membuat mata setiap pria yang dilewatinya terpana. Sementara si cowok berjalan bak selebritas dengan dada membusung tatapan lurus kedepan memasuki gerbang sekolah, sehingga membuat mata yang melihat kesel. Ni orang kok gak tau diri banget sich, itulah bisik-bisik yang terdengar dari mulut pemirsa yang menyaksikan gaya si cowok.

“ Ehhh dek, tunggu, mau ke mana ?” Tanya si kernet angkot.

“ ya ela, ya mau masuk lah, gimana sich ni bapak !” jawabnya seperti merasa tak bersalah.

“ Hoiii,,, ongkosnya bayar dulu, belum dibayar ini !” kata si kernet jengkel.

“ Huuuuuuuuuu……. !” Sorak para siswa yang dari tadi syirik liat gaya kerennya si Arya.

“ Hihihihi… maaf pak !” Jawab si Arya keki, sambil memberikan uang seribu rupiah.

***

Arya muter-muter komplek sekolah bak strikaan, dari raut wajahnya kelihatan mencari sesuatu. Siapa lagi yang dicari kalo bukan kecengannya tercinta si Farah. Walau baru kelas 3 SMP dan berusia 15 taun tetapi rasa cinta sudah menusuk dalam kedalam hati Arya sedalam laut di samudera Hindia. Huhhh, dasar cinta seperti jaelangkung ajha, datang tak dijemput, pulang pun tak diantar.

Temen-temennya yang ngeliat tampang si Arya yang ling lung membuat mereka gatel pengen nanya lagi nyari apa ntu anak.

“ Woii Yak, lu nyari apaan sich, kok dari tadi kayak strikaan panggang bolak-balik keliling sekolah gak jelas ?” Tanya si Beni temennya.

“ Mbok ya kalo mau Thowaf jangan di sekolah, tapi noh, disono, di Arab.” Timpal si Ilham ngasal.

“ Iya, dari pada kita bingung ngeliatin si Arya lagi ling lung, mending kita ke Auditorium Sekolah yuk, liat tim Cheersleder-nya Tasya de ka ka lagi perform !” Ajak si Toni yang memang punya niat terselubung kesono. Maklum karena Tasya kecengan abadinya, saban semester tiap awal terima raport dia langsung nembak si Tasya, dan jawabannya selalu sama “ TIDAK “, tapi dasar ntu anak muka tembok, biar udah ditolak juga tetep ajha maksa pengen diterima. Diem-diem dia memegang semangat dan prinsip pejuang 45, Never Give Up Befor get it !. hihi kasian.

“ Guys, tunggu dulu, lu pada liat si Farah kagak ?” Tanya si Arya kurang semangat karena capek keliling sekolah.” Gue udah nyari kemana-mana tetep ajha kagak nemu, gue pengen liat mukanya doank sekaliiiii ajha, biar ni hari gue sedikit tenang.” Tambahnya.

“ Diiihhh, busyettt ni anak ampe segitunya sama si Farah, kalo pulak si Farah mau diliatin ama elu.” Ledek si Tono.

“ Yeee bacot lu gede Ton, lu sendiri dari tadi narik-narik tangan kita bedua pengen ngeliat si Tasya, padahal kita kan nggak pengen ikutan, ya nggak Ben.” Ujar si Ilham.

“ Sudah-sudah, kalian ini, kita kan mau tamat skul ni, jangan kendurkan urat solider kalian donk, tunjukkin kek Farah di mana ?”. Ujar si Arya.

“ Gini ajha, sesama pecinta sejati, lu berdua ya, Arya sama elu Ton, pergi dech ke Audit, kita bedua mau makan nich, keburu ilang selera makan kita berdua, gara-gara lu pade, mending minggat. Ni sebagai bukti solider diri gue ama kelompok kita.” Ujar si Benny

“ Iya, si Tasya kan lagi perform tuh kata lu Ton, sementara si Farah tadi gue liat lagi jaga Stand Kreasi kelas III A.” Tambah si Ilham

Tanpa dikomandoi Arya dan Tono langsung minggat meninggalkan kantin tempat mereka biasa nongkrong, hari itu memang hari terakhir mereka buat nongkrong-nongkrong di sekolah, karena sebentar lagi mereka akan memasukin jenjang SMU, itupun kalo mereka lulus. Soalnya dari tampang mereka sangat kurang meyakinkan dech, kecuali tampang Arya sendiri yang cukup meyakinkan.

Si Tono kalo ke sekolah paling-paling niat dari rumah baca bismillah cuma supaya bisa memandang wajah si Tasya dengan harapan tembakan episode ini bisa diterima. Sementara si Beni sama Ilham Cuma buat nongkrong di kantin-katin sekolah, biasa kerjaan anak sekolah mah, cari kantin yang banyak jual gorengan, terus mereka nongkrong, gak sadar makan sepuluh gorengan yang dibayar ke mbaknya Cuma dua. Arya lain lagi, dia dari rumah baca bismillah dengan niat…. Ya nggak beda jauh sama temen-temennya, kalo si Arya hanya mengkombinasikan niat-niat temennya. Apaan ? nyilep gorengans ama mantengi si Farah. hihi

***

“ Ton!!! udah lepasin, gak malu apa lu kita masih ajha gandengan gini, hiihh dikira hombreng ntar “ Ujar si Arya ketika mereka sudah sampai di depan Auditorium.

“ Yey, berarti dari sandang hingga kesindang kita gandengan ya nek?” Tanya si Tono dengan aksen bencis, karena kebetulan dia satu kelompok dengan Farah dalam tim teater sekolah. “ Duuuh, kok bisa ya akika begitu nyaman gandengan bareng lekong kayak yey !” Ucap si Tono sambil menyentil dagunya si Arya.

“ Iiiicchh,,,, apaan si lu, sudah sono cari kecengan lu, mending juga dia mau. “ perintah si Arya yang rada kesel kalo sudah liat si Tono mengeluarkan acting banci kaleng.

Arya langsung menuju samping Auditorium tempat sentral stand-stand siswa SMP Arjuna Sakti. Dia melihat sebuah Stand yang sangat rapi dan asri, karena Stand itu milik anak kelas III A yang terkenal sebagai kelas unggulan di SMP-nya.

“ Hai Far, lagi ngapain ?” Tanya si Arya langsung. “ Apa kabar nich ?” tambahnya.

“ Alhamdulillah baek lah, ni lagi nungguin Stand, anak-anak yang lain pada lagi di dalem liat tim cheerleader Tasya lagi perform.” Jawab si Farah.

“ Siapa ?”

“ Rini sama Yanti.” Jawab Farah.

“ Siapa yang Tanya , hehe.” Ledek si Arya

“ Iiich, Arya basi ahh.“ Jawab Farah, karena abis dikerjain, Arya seneng bener mereka nggak kaku. Sepertinya mereka merasa cocok, karena Arya dan Farah sama-sama sering dapat Ranking satu di kelas masing-masing. Kalo Farah Ranking satu di kelas III A, sementara Arya ranking satu dari kelas III H, hihi kelas paling buncit di sekolah mereka.

“ Penampilan berikutnya, Paduan Suara yang akan ditampilkan oleh kelompok Ronny dan kawan-kawan “


Panggilan itu membuat Arya bete’, karena sudah seharian nyariin si Farah, pas ketemu malah harus terpisah lagi. Arya tampak bingung karena pakaian yang awalnya dari rumah tampak rapih perlahan mulai berantakan. Ini semua karena perjuangan mencari si Farah.

Di depan pintu kaca plus di depan Farah, Arya keliatan pede dengan kembali bergaya, Farah yang liat cuma bisa senyum-senyum menyaksikan kelakuan unik temennya, yang sebenernya Farah juga menaruh hati pada dia. Cuma yang namanya cewek nggak mau terlalu vulgar langsung nembak.

Menurut sebuah hikayat, walau wanita itu punya Sembilan nafsu dan satu akal, tetapi mereka mampu membunuh sembilan nafsunya dengan satu akal, walau mereka naksir seseorang, mereka akan berusaha memendam perasaan itu. Gengsi kali ya ! hihi.

Tapi lain lagi dengan cowok, boleh dech punya sembilan akal satu nafsu, tapi kalo sudah ngeliat cewek bening dikit, akalnya sudah pada dibuang ke tong sampah. Langsung ajha nyosor kayak bebek. Tembak sana-tembak sini, trus kalo cintanya sudah diterima, Sang cewek harus siap-siap diakal-akalin ama si cowok. Uugghh dasar cowok jaman sekarang.

“ Ay… “ Panggil Farah dengan panggilan diluar kebiasaannya.

“ Bentar ya Farah, bukan maksud diriku hendak meninggalkan dirimu, tapi mengertilah bahwa diriku sudah dipanggil oleh teman-teman diriku.” Jawab si Arya sok puitis. Emang itu puitis yak ?. hihi.

“ Yeee,,,, pede banget sich, itu lho rambut kamu masih berantakan.” Ujar si Farah. Gubragghhh. Sambil tersenyum keki si Arya lalu menggunakan sisir tradisional lima jari yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya Charles Darwin Phitecantropus Erectus. Hihi.

“ Iiicchh,,, gak rapih, ni pakek sisir aku aja.” Tawar si Farah. Si Arya pun pikirannya makin merasa GR, karena Farah langsung perhatian githu. Arya pun senyum senyum sendiri ketika memasuki ruang belakang pentas. Hati nya begitu berbunga-bunga dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kenapa sulit ? karena yang namanya ngelukis ya harus makek tinta plus kuas, bukan pakai kata-kata. Ughh Payah !!................


-------------------------------------------
Bersambung...........
akankah Arya menyatakan perasaannya pada Farah
Kita tunggu kelanjutan ceritanya...

Aaakh…Wat dan Ahh… Gawat

Oleh : Sulthan Malik

Pagi Minggu Kantor Gubernur Jambi begitu dipadati warga dari berbagai kalangan, dari kalangan bawah hingga atas, Berbagai aktivitas dilakukan warga Jambi pada pagi itu. Dari yang berlari-lari kecil, nongkrong-nongkrong, cuci mata, hingga bercengkerama bersama keluarga tercinta.

Sembari berlari-lari kecil Yusuf perhatikan beberapa Pasutri yang sedang bercengkerama bersama keluarganya. Ada pula pasangan muda-mudi yang bermesraan bersama kekasihnya masing-masing. Benar-benar pemandangan yang indah.

Keringat yang membasahi tubuhnya tidak membuat Yusuf berhenti untuk terus mengelilingi lapangan Kantor Gubernur tersebut. Sudah jadi kebiasaan bagi Yusuf melakukan hal demikian. Yang jelas niatnya adalah olah raga, bukan untuk cuci mata. Walau terkadang “cuci mata” tersebut sulit bagi Yusuf menghindarinya.

Yusuf berpikir, begitu mudahnya melihat daging-daging bertebaran dihadapannya. Layaknya rumah makan yang biasa dikunjungi Yusuf untuk mengisi perutnya dikala lapar. Ada paha, pinggang, dada pokoknya yang lezat-lezat, menu yang biasa dia santap kini bertebaran dihadapannya. Bedanya kalau yang Yusuf nikmati adalah daging hewan, tapi yang saat itu dihadapannya adalah “daging-daging” para kaum Hawa.

Terkadang Yusuf berpikir, untuk apa sebagian kaum Hawa ada yang menutup auratnya dengan pakaian yang panjang dan jilbab yang lebar. Toh, kaum Adam sudah tahu bentuk-bentuk sebenarnya. Siapakah yang disalahkan dalam hal ini, isi otak Yusuf berkecamuk. Sebagai kaum Adam, Yusuf tidak bisa munafik karena terkadang dia sempat juga menikmati pemandangan demikian.

“ ucuup…… “ suara panggilan dari arah sebrang, Yusuf melihat kearah sumber suara. Ternyata teman masa SMA-nya. Dia menghampiri Yusuf. Yusuf begitu terpana memandang teman lamanya tersebut. Dia hanya menggunakan Tank Top plus celana levis pendek diatas lutut. Yusuf menyeka keringatnya melihat itu semua.

“ weyy… liatin apa lu, gak tobat-tobat juga ni anak “ ujar Reni temennya

“ ahh… dak do, Cuma kaget ketemu kau, ternyata masih pada hidup “ ujar lupus

“ apo kabar nich, dah lamo dak ketemu, makin-makin bae sekarang ?“. Tanya Reni sambil mengulurkan tangannya.

“baek lah, awak ni makin seksi bae, kelilipan mato aku nyong “. ujar lupus.

“ biaso lah, namonyo jugo anak mudo, kapan lagi kalo dak sekarang nikmatin maso mudo ni, gek keburu tuo … hahaha “ ujar Reni.

“ yoo laah, kau lah yang mudo, abang ni apolah “ ledek Yusuf.

Panjang bercerita satu sama lain, sampai akhirnya ada seorang cowok yang mendekati mereka, Reni pamit pada Yusuf karena pacarnya sudah menjemput. Dengan senyum yang terkesan dipaksakan sang cowok melempar senyum kepada Yusuf, dan diapun membalas. Lega perasaan Yusuf, karenanya sepanjang perbincangan dengan Reni berbagai getaran dirasakan Yusuf.

***

Setelah selesai meneruskan olah raganya, Yusuf beranjak dari taman tempat peristirahatannya. Yusuf ingin bergegas pulang karena ada begitu banyak pakaian menumpuk harus segera dia selesaikan. Ketika sampai digerbang luar, tak jauh dari sana Yusuf melihat sekumpulan ibu-ibu dari sebuah Partai Islam yang menyediakan pelayanan kesehatan gratis berupa check up tekanan darah, dan tak ketinggalan sarapan pagi gratis berupa bubur kacang hijau.

Yusuf bergegas kearah tersebut, karena tertarik ingin ikutan mengecek tekanan darahnya. Karena mungkin saja ada penurunan karena dia tidur larut untuk menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola Lega Calcio . Setelah di-Check Up semuanya normal. Lalu Yusuf mengarah ke meja yang menyediakan sarapan pagi. Yusuf agak sungkan karena yang menjaga adalah seorang gadis muda cantik berjilbab sempurna, yang tidak membuat Yusuf jelalatan seperti sebelumnya. Dia ambil sebungkus bubur lalu pulang. Didalam hati Yusuf bergumam

“ aahhh, akhirnya ada juga pemandangan yang menyejukkan mata “ gumamnya.
No Copyright@

Hak Cipta Dilindungi Allah SWT, Bila Ada Salah Kata Mohon Dimaafkan. Lagi Belajar sich ^_^
Diterima Cacian, Makian, Saran dan Kritik
Email: abu.aifah1@gmail.com
CP/Whatsapp :
0821-7816-9560

KPR Non Ribawi Jambi

 

.:: Inspirasi Bang Malik ::. Published @ 2014 by Bang Malik

Blogger Templates